Jalanan Semrawut, Warga Ciledug Frustasi

CILEDUG,SNOL Kemacetan dan kesemrawutan di jalan HOS Cokroaminoto Ciledug seperti benang kusut yang tak bisa terurai.

Warga kecamatan di perbatasan Tangerang – Jakarta itu mulai frustasi menghadapi macet yang disebabkan Pedagang Kaki Lima (PKL) berdagang sembarangan, sopir angkot ngetem seenaknya, pengendara melawan arus ditambah tidak adanya fasilitas Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) dan lain-lainnya itu.

Agus Setiawan (35), warga Ciledug Indah 2 mengatakan setiap hari dia harus melewati jalan HOS Cokroaminoto menuju Kuningan, Jakarta untuk bekerja. Setiap berangkat dan pulang kerja, dia selalu merasakan kemacetan yang seolah tak pernah ada solusi.

“Kalau yang sering buat saya kesal banyak angkot yang berhenti sembarangan. Kemudian banyaknya pedagang yang berjualan di pinggir jalan juga sangat mengganggu karena pembeli memarkir kendaraan seenaknya. Saya berharap pemerintah memberikan solusi agar Ciledug bebas dari kemacetan,” katanya.

Ungkapan yang sama juga dirasakan Gusti Randa Putra (23), seorang mahasiswa yang berkuliah di Universitas Budi Luhur. Dia mengatakan kemacetan yang terjadi di Ciledug membuatnya terkadang merasakan pusing dan frustasi. Dia terpaksa melalui jalan tersebut karena tidak ada jalan lain untuk menuju kampusnya. Menurutnya, kemacetan biasa terjadi di jam-jam kerja, yakni pagi dan sore.

“Kalau saya sih sudah tidak aneh mendengar kemacetan di Ciledug. Dari dulu memang seperti itu dan tidak pernah ada solusi. Petugas juga sangat minim untuk mengatur lalu lintas dan tidak menindak tegas bagi sopir angkot yang selalu ngetem sembarangan,”ungkapnya.

Salah satu pemicu terjadinya kemacetan di jalan HOS Cokroaminoto adalah keberadaan pedagang kaki lima di pinggir jalan. Para pedagang buah-buahan, makanan dan minuman serta warung rokok berdiri di bahu jalan. Padahal petugas sudah memasang papan pengumuman peraturan daerah nomor 18 tahun 2000 tentang pelarangan berdagang di bahu jalan dan trotoar.

Selain itu, kemacetan yang terjadi di jalan tersebut juga diakibatkan banyaknya angkutan umum yang menunggu penumpang (ngetem) sembarangan. Para sopir juga dengan bebasnya menaikan serta menurunkan penumpang dimana saja.

Bukan hanya pedagang kaki lima dan sopir angkutan umum, tukang ojek yang mangkal dipinggir jalan serta masyarakat yang menyebrang sembarangan juga menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan. Masyarakat menyebrang seenaknya karena tidak adanya sarana Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang menghubungkan antara dua mal yakni Mal Borobudur dan CBD Ciledug.

Salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan, terpaksa berjualan di bahu jalan tersebut karena tidak ada tempat lain untuk menjajakan dagangannya. Di tempat tersebut menurutnya sangat strategis karena ramai pembeli. Dengan malu-malu dia juga tidak menampik adanya setoran kepada oknum yang setiap harinya melakukan pemungutan.

“Ya pungutan pasti ada mas, katanya sih untuk keamanan,” kata pedagang yang lagi-lagi namanya enggan dikorankan.

Camat Karang Tengah, Sucipto mengatakan, pihaknya tiga hari yang lalu sudah melakukan penertiban PKL yang ada dibahu jalan sepanjang Jalan raya HOS Cokroaminoto. Namun, pedagang masih saja membandel dan kembali berjualan lagi. Selain itu, pihaknya juga kewalahan menertibkan angkutan umum dan bus yang ngetem sembarangan.

“Kita sudah berusaha menertibkan para pedagang, tapi mereka kembali lagi setelah ditertibkan. Persoalan angkutan yang ngetem juga sempat kita tungguin, kalau kita tungguin lancar tapi kalau kita tinggal mereka ngetem lagi,” katanya.

Dia berjanji akan terus melakukan penertiban hingga Ciledug bisa bebas dari PKL dan kemacetan. Pihaknya juga akan berkordinasi dengan Walikota untuk mencari alternatif mengatasi kemacetan yang ada di Ciledug dengan merekayasa lalu lintas di daerah tersebut.(uis/gatot/satelitnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.