Buang Limbah ke Cisadane, Pabrik Timah Ditutup

PAKUHAJI,SNOL—Gara-gara membuang limbah ke Sungai Cisadane, sebuah pabrik timah dan plastik di Kampung Kebon Rampok RT 01/07 Desa Gaga Kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang dipaksa berhenti beroperasi, Senin (4/5) siang. Pabrik tersebut juga dikeluhkan warga sekitar karena asap hasil produksi mengganggu pernafasan.

Pabrik timah itu dimiliki seorang pengusaha bernama Bintoro. Dia mengolah sampah plastik dan timah untuk menjadi barang baru berbentuk batangan. Industri rumahan itu awalnya beroperasi di aerah Dadap, Kosambi tapi kemudian berpindah ke Desa Gaga sejak satu tahun lalu.

Home industri tersebut didirikan di atas bantaran Sungai Cisadane. Masyarakat sekitar sudah lama mengadukan perihal aktivitas pabrik tersebut karena asap yang dihasilkan dari peleburan timah serta plastik sangat menusuk hidung, mengganggu pernafasan dan merusak lingkungan. Berdasar laporan warga, pohon-pohon di sekitar pabrik juga banyak yang mati karena aktivitas peleburan timah dan plastik. Apalagi, home industri itu juga tidak memiliki izin yang lengkap.

Camat Pakuhaji, Nurhalim mengatakan pabrik milik Bintoro sudah diperingatkan sebelumnya. Namun peringatan camat tak digubris. Mereka tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Karena kesal, Camat Nurhalim beserta petugas keamanan dan ketertiban (Trantib) serta polisi Kecamatan Pakuhaji menggerebek pabrik itu kemarin siang sekira pukul 13.30 wib. Saat camat tiba di lokasi, sejumlah pekerja langsung kabur dan menutup tempat penyimpanan timah batangan. Hanya pemilik home industri, Bintoro yang masih di lokasi dengan wajah cemas dan keringat bercucuran menemui camat dan rombongannya.

“Kalau sampai satu minggu bangunan tidak dirobohkan serta tidak pindah tempat, terpaksa aparat keamanan dan warga yang akan meratakan bangunan pabrik tersebut,” tegas Camat Pakuhaji Nurhalim di depan Bintoro.

Nurhalim menjelaskan, larangan usaha pembuatan timah batangan ini awalnya dari pengaduan masyarakat yang merasa terganggu dengan asap pembakaran. Selain itu, pabrik tersebut juga melanggar aturan pemerintah karena berdiri di atas bantaran Sungai Cisadane yang merupakan kawasan hijau, serta tidak memiliki izin lengkap atau ilegal. Ia pun terpaksa meminta pemiliknya untuk berhenti produksi kemarin.

“Coba lihat pohon-pohon sekitar home industri ini pada mati semua, imbas hawa panas dari pembakaran timah tersebut. Bahkan asapnya pun juga menyengat dan membuat sesak pernapasan warga sekitarnya,” tandas Nurhalim.

Kasi Trantib Kecamatan Pakuhaji Silmi menambahkan, pihaknya siap membantu pembongkaran home industri tersebut, karena sudah merusak lingkungan. Ia pun kasihan terhadap masyarakat yang sudah menghirup udara tidak sedap hasil pembakaran bahan bekas untuk pembuatan timah tersebut. “Saya siap membongkar pabrik yang memproduksi batang timah tersebut,” tegasnya.

Senada, Binamas Desa Gaga Aiptu Endang Lesmana mengatakan, keluhan ini baru terdengar dari warga dan langsung dilaporkan ke kecamatan untuk segera dilakukan pembongkaran. “Saya mengawal jika jadi dibongkar karena sampai saat ini sudah banyak pohon yang mati,” ucapnya.

Pemilik home industri timah batangan Bintoro mengungkapkan, pihaknya sudah mengajukan izin lingkungan ke Balai Besar Ciliwung Cisadane. Ia juga akan mengikuti semua aturan pemerintah daeah dan meminta waktu untuk memindahkan barang-barangnya, serta diberi kesempatan untuk merapikan semua barang miliknya.

“Saya memang belum ijin ke kecamatan hanya masih sekedar lingkungan serta RT saja,” jelasnya. Menurutnya, saat ini masih ada tiga bangunan peleburan timah yang bakal dibongkar karena berada di atas bantaran Sungai Cisadane. (mg26/aditya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.