Divonis 17 Tahun, Pembunuh Sosialitas Kesal

TANGERANG,SNOL—Jean Alter Huliselan (JAH), terdakwa kasus pembunuhan terhadap Sri Wahyuni di tempat parkir Bandara Soekarno-Hatta, kesal setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang menjatuhkan vonis 17 tahun penjara kepadanya, Senin (4/5). Padahal, hukuman yang dijatuhkan kepadanya lebih ringan dari tuntutan Jaksa yang menuntutnya selama 20 tahun.

Ketua Majelis Hakim Abner Situmorang dalam amar putusannya menyatakan Jean Alter terbukti melanggar Pasal berlapis yakni Lasal 338, 339, 351 dan 365 KUHP. “Menyatakan terdakwa bersalah dan memutuskan menjatuhi hukuman pidana penjara 17 tahun,” terangnya. Putusan tersebut berdasarkan pertimbangkan dari hal yang meringankan yakni pengakuan terdakwa atas kasus pembunuhan tersebut.

“Sementara, hal yang memberatkan, terdakwa telah menghilangkan nyawa seorang ibu yang membuat anak-anak korban kehilangan orang tua,” tambah hakim. Saat mendengar putusan, Jean Alter Huliselan terlihat bingung. Saat ditanya apakah ingin memilih banding, pikir-pikir atau terima vonisnya, Jean beberapa kali melihat ke arah kuasa hukumnya seperti sedang menanyakan sesuatu.

Kuasa hukum Jean, Berthanatalia, terlihat bertanya kepada Jean menanggapi pertanyaan majelis hakim. Setelah beberapa saat, Jean pun mengisyaratkan kepada Berthanatalia agar dia saja yang memberikan keputusan. Ternyata Jean menerima vonis 17 tahun penjara tersebut.

Adapun vonis majelis hakim lebih rendah dibanding dengan tuntutan dari jaksa penuntut umum, yakni 20 tahun. Jaksa mendakwa Jean dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 339 dan Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan, Pasal 351 tentang Penganiayaan, dan Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan.

Setelah sidang usai, Jean pun terlihat langsung beranjak pergi dengan ekspresi datar menuju ruang tahanan melalui pintu khusus bagi para terdakwa, sementara kuasa hukum dan jaksa penuntut umum masih bersalaman dengan majelis hakim.

Ditemui di ruang tahanan, Jean berdiskusi sejenak dengan kuasa hukumnya. Namun saat beberapa awak media datang, Jean melempar rompi tahanan yang dia kenakan ke arah para pewarta. “Pergi kau, jangan foto-foto. Pergi sana!” teriak Jean.

Menurut Berthanatalia, Jean telah menerima vonis majelis hakim terhadap dirinya, meskipun masih kesal. “Memang dia sepertinya masih emosi,” ujar Berthanatalia.

Jaksa penuntut umum Satya Manurung menuturkan bahwa dia menerima putusan majelis hakim. Maka dari itu, vonis yang telah disampaikan tadi sudah bersifat hukum tetap karena kedua belah pihak, baik jaksa maupun tergugat, menerima putusan tersebut.

Seperti diketahui, kasus ini bermula saat penemuan mayat wanita di Terminal 2D bandara Soekarno-Hatta, pada 10 November 2014. Mayat tersebut dibiarkan membusuk di dalam mobil Honda Freed B-136-SRI. Sri Wahyuni atau yang akrab disapa ‘Emak’ dalam komunitas sosialita ini dibunuh dengan cara dicekik di Taman Gajah Mada, Blok M, Jakarta Selatan.

Setelah menghabisi nyawa korban, JAH sempat kembali ke rumah kosnya ada di Kemang untuk mengganti baju yang terkena muntahan dan darah Sri ketika mencekiknya. Lalu baju tersebut dibuang di Tol TB Simatupang.

Selanjutnya Jean memarkirkan kendaraan milik Sri di Bandara Soekarno Hatta lalu melarikan diri ke rumahnya di Nabire, Papua. Tak lama kemudian, akhirnya pihak kepolisian berhasil menangkapnya di rumah istrinya pada akhir 2014 lalu. (uis/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.