Laurentia Editha, Arek Suroboyo di Balik Musik Perfilman Amerika

Tidak akan sia-sia seorang bekerja keras. Terbukti, empat tahun berhijrah ke Negeri Paman Sam, Laurentia Editha berkiprah lewat musik perfilman.

ASA WISESA BETARI, Surabaya

LAURENTIA Editha tidak menyaksikan langsung pergelaran balet dari Center Point Academy. Pentas tersebut dihelat pada 7 Juni 2016 di Hotel JW Marriott, Surabaya. Padahal, Laurent, sapaannya, punya andil besar pada pentas yang mengisahkan romantika cinta Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji itu. Dia mengaransemen lagu pada pertunjukan tersebut. Itu merupakan proyek pertamanya sebagai seorang komposer musik. Padahal, ketika itu Laurent masih berstatus sebagai mahasiswa semester IV di Berklee College of Music, Boston, Massachusetts, AS.

Kini, empat tahun sudah Laurent meniti karir sebagai seorang musisi. Dari kegemarannya bermain piano, bakat bermusik gadis 22 tahun tersebut kian terasah. Insting bermusiknya merambah ke alat musik yang lain, yakni gitar. Juga, vokal. ’’Tapi, itu cuma main-main aja. Nggak serius lho,’’ katanya kala wawancara via Skype dengan Jawa Pos.

Hobinya tersebut membuat Laurent bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Dulu, di sekolah dia merupakan pengiring musik andalan bagi paduan suara dan siswa-siswa yang akan unjuk gigi. Di luar sekolah, Laurent juga kerap dimintai tolong oleh para tetangga, teman bermain, atau siapa pun saat mereka membutuhkan konsultan musik.

Semakin beranjak dewasa, Laurent bisa memilah genre musik yang disenangi. ’’Aku dengerin semua jenis musik. Tapi, aku suka banget sama film music, termasuk soundtrack dan musik efek yang ada di film,’’ tuturnya.

Setelah lulus dari SMA Kristen Cita Hati pada 2013, Laurent mendaftar di dua universitas, masing-masing di luar dan dalam negeri. Dia mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta dan film music di Berklee College of Music, Boston.

Pertimbangannya adalah nilai akademik dan passion dalam bermusik. ’’Kedokteran udah ketrima. Mama udah DP Rp 1 juta,’’ katanya.

Meski sudah mendapatkan sekolah, perasaan ragu masih menyelimuti hati Laurent dan mamanya, Fefe Bastian. ’’Temenan (sungguh, Red) ta kamu mau jadi dokter? Yakin?’’ ungkap Laurent kala menirukan ucapan mamanya.

Beruntung, orang tua Laurent selalu mendukung apa pun keputusan putrinya tersebut. Selang lima bulan, melalui sebuah e-mail, Laurent mendapat pengumuman dari Berklee College of Music.

Menurut Laurent, universitas tersebut merupakan salah satu yang paling difavoritkan. Wajar saja. Berklee College of Music pernah meluluskan beberapa musisi ternama. Sebut saja pemilik hit Your Body is a Wonderland John Mayer, gitaris band legendaris Dream Theater John Petrucci, Quincy Jones, dan masih banyak lagi.

Dari deretan nama alumnus yang telah melejit, bisa ditebak bahwa Berklee College of Music merupakan universitas dengan garis seni yang cenderung kontemporer. Juga, bisa dibilang lebih mengarah pada musik umum dan komersial seperti pop serta jazz.

Untuk bisa bersekolah di sana, Laurent harus menjalani serangkaian seleksi panjang. Di antaranya, memodifikasi lagu jazz dan pop yang diberikan dosen, menciptakan lagu, tes lanjutan mendengarkan dan menebak nada, serta membaca not.

Sulung dari dua bersaudara itu lebih dari empat tahun meninggalkan tanah air untuk mengejar ilmu di Negeri Paman Sam. Dia tinggal di Boston untuk bersekolah di Berklee College of Music selama tiga tahun.

Di sana, banyak hal yang dipelajari. Termasuk bagaimana menghadirkan nyawa dalam setiap rangkaian nada. Perpaduan harmoni dan melodi dirangkai untuk menciptakan musik yang dapat memainkan emosi kesedihan, kebahagiaan, hingga ketakutan. ’’Semua based on research,’’ tuturnya.

Setelah itu, pada tahun ke-4 kuliah dia hijrah ke Los Angeles untuk kerja praktik. Dia bekerja dengan beberapa komposer. Salah satunya bersama Lucas Vidal yang menaungi Music and Motion Production Company.

Pertemanan menjadi koneksi. Ilmu menjadi peluang untuk meniti karir. Keahliannya mengutak-atik nada membuat Laurent cukup terkenal di kalangan pengajar. Beruntung, dia juga mudah beradaptasi dengan sistem kerja Los Angeles.

Untuk mengerjakan satu proyek, biasanya dibentuk tim. Tujuannya, memenuhi deadline yang cukup singkat. Tim berisi 6–12 orang dan dipimpin seorang komposer utama. ’’Satu musik berdurasi 22 menit bisa hanya dikerjakan lima minggu. Kami bisa revisi empat sampai lima kali hingga akhirnya fix,’’ jelas penyuka soto betawi itu.

Mulai magang hingga lulus pada Desember 2016, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Semua ada plus minusnya. Ada yang sikut-sikutan, ada pula yang bahu-membahu. ’’Pernah nggak dikasih kerjaan musik. Malah disuruh fotokopi. Pernah juga dikasih kerjaan seperti office boy. Pernah juga karyaku nggak diakui,’’ ungkapnya. Meski demikian, pengalaman tersebut membuat Laurent memahami dunia permusikan di Los Angeles.

Di Los Angeles, Laurent tinggal bersama tiga sahabatnya asal Peru, Singapura, dan Kanada. Mereka menyewa sebuah rumah yang berisi tiga kamar. ’’Aku bukan tipe orang yang bangun pagi. Jadi, mending lembur malam,’’ ucapnya.

Laurent memilih salah satu kamar berukuran 3 x 3. Selain kasur dan lemari, terdapat sebuah meja. Di sana ada seperangkat komputer, keyboard, dan speaker. Tiga benda tersebut merupakan senjata Laurent.

Untuk meng-arrange musik, Laurent menggunakan program komputer Logic Pro X, sound libraries, dan keyboard. ’’Terdapat tiga tahap pembuatan. Mulai proses menulis, mixing, sampai yang terakhir mastering,” paparnya.

Pada proses menulis, dia menggunakan sound libraries dan sound design di dalam Logic Pro X. Suara-suara dari sound libraries yang sudah ada, lantas dipadukan agar menjadi satu track lagu yang koheren. Setelah itu, semua komponen di-mix dengan menggunakan program serupa.

Dia bekerja mulai sore hingga pukul 03.00 untuk menggarap aransemen. Deadline adalah inspirasi paling brilian. ’’Maksa aja. Duduk and just do it. Nanti juga keluar inspirasinya,’’ ucapnya.

Dari sana, kemampuan Laurent terendus para komposer senior. Tawaran mulai berdatangan. Diawali dari relasi para pengajar sampai alumnus kampus. Sebagai pendatang, Laurent sadar bahwa dirinya harus cepat membuat relasi. Dari grup Facebook alumnus kampus, dia memberanikan diri untuk berkenalan dengan banyak orang sembari menawarkan jasa.

Hasilnya, dari perkenalan itu, Laurent bisa terlibat dengan tim musik produser Damon Elliott sebagai penyanyi dan film composer dalam project Chakra Rising yang rilis 2017.

Selain itu, dia bergabung dengan tim musik Jeff Russo dan Amie Doherty sebagai music assistant untuk TV show Star Trek: Discovery, Altered Carbon, dan Counterpart. Laurent juga pernah jadi bagian dari tim musik Tom Howe sebagai asisten musik di film Professor Marston & The Wonder Women.

Proyek terbarunya adalah kolaborasi dengan artis Raign (Rachel Rabin) dalam beberapa track di albumnya yang dijadwalkan rilis 2018. Kali ini dia membawa namanya secara pribadi sebagai main music composer.

Rachel Rabin merupakan seorang penyanyi, penulis lagu, dan produser. Raign pernah menulis beberapa single untuk album penyanyi Rita Ora dan Jesse McCartney.

Pada Mei 2014, lagu solo pertamanya berjudul Do Not Let Me Go populer sebagai salah satu soundtrack serial TV berseri The Vampire Diaries Season 5. Bersama Raign, Laurent membuat empat lagu. Dua lagu yang dirilis bulan ini berjudul Empire of Our Own dan One Thing Leads to Another.

Sebelumnya, Empire of Our Own dirilis pada 2015 dalam album Knocking on Heavens Door. Proyek yang digarap adalah versi baru (trailerized version) dari lagu tersebut. Keduanya dirilis pada 23 November. Sementara itu, dua lainnya dirilis pada 2018.

’’Seperti proyek-proyek sebelumnya, aku harus buat sampel musik beberapa kali. Hingga akhirnya kedua pihak klop. Itu sangat memakan waktu,’’ ucap Laurent. Meski demikian, kolaborasi bersama Raign merupakan pengalaman pertama yang membuatnya sangat antusias. Setidaknya, Laurent bisa mengibarkan benderanya sendiri.

Laurent sudah melangkah satu tahap lebih tinggi. Dalam jangka panjang, dia pun bercita-cita untuk kembali ke tanah air. ’’Aku pengin sharing apa yang sudah aku dapatkan di sini. Aku pengin angkat industri perfilman Indonesia. Semoga Juli aku bisa pulang, ya,’’ lanjutnya. Selain itu, ada satu hal yang masih dikejar. Yakni, keinginan memiliki studio pribadi.

(*/c15/dos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.