Waspada Perubahan Cuaca Ekstrem

CURUG, SNOL—Badan Penang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mengimbau kepada seluruh warga untuk mewaspadai pe­rubahan cuaca yang terjadi akhir-akhir ini. Curah hujan yang tinggi dan terjadi secara tiba-tiba dikhawatirkan dapat memicu bencana banjir dan angin puting beliung.

“Kondisi alam sedang tidak menentu, seperti terjadi min­ggu kemarin di mana secara tiba-tiba dari kondisi terang langsung terjadi hujan lebat dengan disertai angin kencang,” kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Agus Suryana, Jumat (10/11) lalu.

Masyarakat di daerah dataran rendah patut mewaspadai ter­jadinya bencana banjir. Curah hujan cukup tinggi belakangan menunjukan terjadinya pe­rubahan iklim yang tidak me­nentu. Ia mengimbau para pen­gendara untuk menggunakan pakaian pelindung saat terjadi hujan lebat dan meningkatkan kewaspadaannya.

“Hujan lebat yang terjadi se­cara tiba-tiba identik disertai dengan kejadian. Selanjutnya, hal ini harus kita waspadai semua,” katanya.

Saat ini, ia pun mengaku, telah menyiagakan anggot­anya termasuk peralatan pen­anganan banjir seperti perahu karet dan pelampung. Pada sisi lain, ia pun mengajak ke­pada seluruh masyarakat untuk ikut membersihkan lingkun­gan sekitar tempat tinggalnya, agar saluran drainase dan gorong-gorong bisa berfungsi sebagaimana mestinya saat me­nampung debit air yang lewat.

“Jangan saat hujan turun dengan lebatnya, malah jadi tersumbat. Kalau mampet nanti akan sudah sendiri,” tegasnya.

Kabid Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Keber­sihan Kabupaten Tangerang, Nano mangaku tingkat kesada­ran masyarakat masih minim. Terbukti dari masih banyak ditemukannya tumpukan sam­pah bukan pada tempatnya meski sebelumnya pihaknya telah menempatkan bak sam­pah, arm roll, hingga tempat pembuangan sementara.

“Bisa dilihat sendiri, dimana-mana masih ada saja sampah berserakan, baik di jalan mau­pun saluran-saluran air,” keluh­nya.

Kades Gembong, Kecamatan Tigarakaksa, Ahmad Hudori mengaku, sejumlah titik di daerahnya sering terjadi banjir, luasnya area persawahan mi­lik penduduk yang dikelilingi pabrik-pabrik diduga menjadi penyebabnya. “Disini sering ke­banjiran, itu karena minimnya saluran drainase yang ada, ban­yak tembok-tembok perusa­haan yang berbatasan langsung dengan area persawahan mem­buat tersumbatnya aliran debit air saat hujan turun,” pungkas­nya. (mg1/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.