84 Profesor Asing Serbu Indonesia

Terbanyak Dari Jepang

JAKARTA, SNOL—Sebanyak 84 orang profesor asing akan datang ke Indonesia untuk berkolaborasi dalam program bertajuk World Class Professor (WCP) 2017. WCP 2017 adalah salah satu program Kemenristekdikti yang digelar di penghujung 2017.

Program ini secara teknis menempatkan 84 profesor asing berkaliber dunia di sejumlah kampus negeri di Indonesia. Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar mendapatkan alokasi penempatan profesor asing paling banyak. Unhas mendapatkan jatah 12 orang profesor, sedangkan UI mendapatkan 11 orang profesor. Dari sebaran asal profesor yang akan didatangkan ke Indonesia, Jepang paling banyak dengan jumlah 26 orang profesor. Disusul kemudian Amerika Serikat (11 profesor) dan Australia (10 profesor).

Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan program WCF 2017 ini berbeda dengan program diaspora guru besar tahun lalu. Dia mengatakan di program WCF ini, yang diundang ke Indonesia adalah guru besar atau profesor berkebangsaan asing. “Sedangkan program diaspora guru besar adalah guru besar WNI yang menetap dan berprestasi di luar negeri,” katanya di Jakarta (16/11).

Ghufron mengatakan ilmuan asing itu datang ke Indonesia dalam dua skenario. Skeario pertama adalah guru besar atau institusi kampus asing yang pernah meraih Nobel. Kola borasi dengan ilmuan atau dosen lokal itu diharapkan mampu menghasilkan enam publikasi bersama (join publication) internasional. Sedangkan skenario kedua tetap orientasinya untuk publikasi internasional, tetapi tidak sebesar skema atau skenario pertama.

Dia mengatakan pemerintah hatihati dalam memilih guru besar asing. Jangan sampai kejadian kasus Dwi Hartanto, ilmuan Indonesia yang tinggal di Belanda, terulang kembali. Dimana ternyata prestasi Dwi tidak semoncer yang muncul ke publik. Bahkan cenderung banyak kebohongannya.

Ghufron menuturkan yang menyeleksi para profesor kelas dunia itu kampusnya masing-masing. Sehingga jauh lebih valid ketimbang dinilai oleh tim yang berada di Indonesia. Saat ini nama-nama para profesor asing yang akan mengajar di Indonesia itu sudah ditetapkan. Menristekdikti Mohamad Nasir berharap kehadiran para profesor kelas dunia itu bisa ikut mendongkrak kualitas kampus lokal. Dia berharap pada 2019 nanti ada lima kampus Indonesia yang masuk 500 besar dunia. Selain itu juga mampu meningkatkan jumlah publikasi ilmiah internasional di Indonesia.

Nasir mengatakan data per 15 November 2017 jumlah publikasi Indonesia mencapai 14.087 karya. Jumlah ini jauh mengungguli publikasi Thailand yang hanya 12.449 karya. “Baru tahun ini publikasi ilmiah internasional Indonesia menyalip Thailand. Ke depan salip Malaysia dan Singapura,” katanya. (wan/jpc)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.