Setnov Bisu di Depan Hakim

JAKARTA,SNOL— Setya Novanto tidak menjawab pertanyaan hakim Penga­dilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, pada sidang perdana kasus ko­rupsi proyek e-KTP yang digelar Rabu (13/12).

“Saya coba kembali, saya tanyakan, cukup jelas pertanyaan saya. Saudara ti­dak mendengar? Apakah nama Saudara Setya Novanto,” ucap Hakim Yanto. Na­mun Novanto hanya berdiam diri.

Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meng­hadirkan dokter dari lembaga antirasuah tersebut untuk memastikan kondisi kesehatan Setya Novanto. JPU juga meng­hadirkan tiga dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ketiga dokter tersebut masing-masing dokter Emir, Dono Ansono, dan Freddy Sito­rus. Majelis hakim kemudian meminta ketiganya maju ke depan persidangan.

“Jadi tadi pagi (Rabu,red) terdakwa diperiksa sehat tapi kemudian sekarang Pukul 10.30 WIB, terdakwa ditanya ten­tang identitas, tak ada reaksi. Apakah dimungkinkan bisa berubah drastis,” tanya Ketua Majelis Hakim, Yanto.

Menanggapi pertanyaan tersebut ketiga dokter menyebut mereka sebe­lumnya telah menerima laporan dari dokter KPK. Dari hasil pemeriksaan, semua kondisi kesehatan Novanto cu­kup bagus. Baik itu denyut nadi, gula da­rah, semuanya baik. “Jadi kami sepakat bahwa beliau (Novanto,red) layak untuk bisa hadir (mengikuti persidangan,red),” ujar salah seorang dokter dari tiga dokter yang dihadirkan KPK.

Saat kembali ditanya apakah kondisi kesehatan dapat mengakibatkan terda­kwa tak dapat berbicara, ketiga dokter menyatakan bisa saja hal tersebut ter­jadi. Namun dari kondisi fisik di mana Novanto dapat berjalan, maka seharus­nya juga dapat berbicara.

“O, jadi bisa saja (kondisi kesehatan ngedrop,red), tapi seharusnya (kalau tak bisa ngomong,red) juga tak bisa berjalan,” ucap hakim mengulangi per­nyataan ketiga dokter tersebut.

Sebelumnya diketahui Novanto tiba di ruang persidangan dengan berja­lan kaki dari lobi depan, tanpa ban­tuan kursi roda. Menanggapi penjela­san tersebut, Hakim Yanto kembali mengulangi pertanyaan yang sama ke­pada Novanto. “Apakah nama terdakwa Setya Novanto? Namun lagi-lagi Ketua Umum non aktif DPP Partai Golkar tersebut bergeming. Ia tetap membisu.

Ketua Majelis Hakim, Yanto kemudian memerintahkan pemeriksaan kesehatan ulang terhadap Ketua DPR Setya No­vanto. Menurut majelis, pemeriksaan ulang penting dilakukan untuk mengetahui apakah Novanto benar-benar sakit atau justru sebaliknya. Sebab, surat keterangan dari dokter KPK menyebut Novanto dalam kondisi sehat. “Di sini ada klinik, apabila dokter membawa alat (untuk memeriksa Novanto,red) lebih lanjut,” ucap Hakim Yanto. Sekitar pukul 11.20, majelis menskors sidang.

Sementara, sidang lanjutan gugatan praperadilan Setya Novanto melawan KPK juga digelar di hari yang sama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. KPK menyiapkan peralatan untuk tayangan live streaming dalam sidang praperadi­lan. Peralatan itu untuk menayangkan secara langsung sidang perdana pokok perkara kasus korupsi proyek e-KTP, dengan terdakwa Setya Novanto.

Anggota Biro Hukum KPK Firman mengatakan, peralatan live streaming yang disiapkan berupa proyektor, speaker, layar, dan sejumlah laptop. Peralatan itu disiapkan di ruang sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Ja­karta Selatan.

“Kami akan lihat perkembangan situ­asinya, apakah mau direkam dulu di sana lalu dibawa ke sini, atau live. Tapi permasalahannya kan di sana (Penga­dilan Tipikor) enggak boleh live,” ucap Firman di ruang sidang utama PN Ja­karta Selatan, Rabu (13/12).

Di sidang praperadilan kali ini, KPK menghadirkan saksi ahli dosen Hu­kum Tata Negara dari Universitas Gajah Mada, Zainal Arifin Mochtar. (mg1/gir/boy/jpg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.