Lawan Kotak Kosong, Apa yang Salah?

SAAT libur kemarin, handphone saya tiba-tiba berdering. Rupanya ada pesan What­sApp masuk. Setelah dibuka, isinya lumayan panjang. Si pengirim pesan sepertinya seri­us mengajak diskusi soal fenomena pilkada di empat daerah di Banten.

Si pengirim pesan itu mengupas soal ke­mungkinan tiga dari empat daerah (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Ka­bupaten Lebak) di Banten yang menggelar pilkada bakal diikuti hanya satu pasangan calon, alias pilkada dengan penantang ko­tak kosong. Kecuali pilkada Kota Serang.

Di Kota Tangerang ada petahana Arief Wismansyah, di Kabupaten Tangerang bupati sekarang Ahmed Zaki Iskandar kembali mencalonkan diri, sementara di Lebak, petahana Iti Octavia Jayabaya juga memastikan kembali maju. Se­bagian besar partai politik juga sudah merekomendasikan pen­calonan untuk para petahana itu. Di tiga wilayah itu, nyaris semua partai politik tidak ada yang berani mengusung kader internalnya untuk bersaing dengan petahana.­

Saya yang tadinya tengah asyik menikmati libur (maksudnya leyeh-leyeh, hehehe), mendadak antusias. Obrolan soal pilkada ini tidak boleh dilewatkan. Bukan tanpa sebab, isu inilah yang kini ramai jadi bahan perbincangan.

Fenomena tiga pilkada di Banten inilah yang paling diso­rot oleh si pengirim pesan. Ter­lebih tidak ada ingar bingar keramaian pesta demokrasi di tiga wilayah itu. Nyaris aroma pilkada di tiga wilayah itu tanpa rasa, tanpa persaingan, hampa seperti tak ada gelaran pesta lima tahunan. Jangankan keme­riahan persaingan kandidat di partai politik masing-masing, baliho, spanduk atau apapun namanya yang berbau sosialisasi calon tak ada bekasnya. Di tiga wilayah ini, jangan harap Anda menemukan pohon atau tiang listrik yang ditempeli gam­bar calon.

“Itu karena kelompok politik dominan di Banten tak ada yang berani melawan,” kata pengirim pesan menganalisa penyebab tidak adanya pesaing yang maju di tiga wilayah itu.

Kalau fenomena versus kotak kosong itu benar-benar terjadi di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Lebak, maka akan menjadi sebuah sejarah baru perpolitikan di Banten. “Bisa jadi Banten memecahkan rekor paling banyak kotak ko­song,” ujar dia.

##

Apakah ini kegagalan parpol melahirkan kader bagus calon kepala daerah? Atau memang parpol sadar diri kalau melawan akan kalah?

Lalu, kalau melawan kotak kosong apa masih layak disebut pemilihan? Milih apa? Dana negara miliaran rupiah untuk pesta demokrasi lima tahunan itu hanya menghasilkan kotak kosong?

Seburuk itu kah kaderisasi politik di Banten? Pada kemana jawara politik? Tidak berani nya­lon?

##

Itulah sederet pertanyaan yang menyerocos di pesan singkat handphone saya. Saya sendiri agak bingung dengan fenomena politik di tiga wilayah itu. Masa sih sebegitu kuatnya para incumbent sehingga tidak ada lawan yang berani tanding?

Pikiran saya lalu melayang ke depan. Oooh, jangan-jangan melempemnya nyali para calon kepala daerah karena mereka fokus di tahun 2019. Ya, di ta­hun itu ada gelaran pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres). Para calon mungkin berhitung, daripada nyalon di pilkada yang belum tentu menang melawan incum­bent, mending menyiapkan diri buat nyalon di Pileg 2019.

Namun, argumen saya ini dipatahkan oleh si pengirim pesan. “Politik itu bukan da­gang, tidak elok menghitung untuk rugi. Yang jelas kaderisasi parpol yang tidak jalan,” ban­tahnya.

“Sepertinya memang demiki­an,” kataku balik menunggu kelanjutan argumen si pengirim pesan.

“Itulah politisi bermental pedagang. Sebaiknya orang model begitu jangan jadi wakil rakyat. Mereka kerja cari nafkah bukan mengabdi. Justru pilkada itu stepstone terbaik buat pileg. Bayangkan kalau semua ber­pikir begitu, padahal pilkada ke depan akan bersamaan dengan pileg. Jangan-jangan nanti gak ada politisi yang mau men­calonkan diri,” bebernya.

“Apakah ini karena saking kuatnya petahana?,” kataku se­dikit ngeyel. “Dari hasil survei, tiga petahana ini memang ung­gul. Secara kinerja para petaha­na itu juga dinilai berprestasi,” tambah saya.

“Ya di manapun petahana memang potensial dua periode. Apalagi petahana yang mampu menjaga komunikasi politik dan distributif. Tetapi petahana yang tidak membesarkan pesaingnya juga pantas disebut gagal. Mere­ka membangun dominasi untuk kepentingan kekuatan politik tunggal. Itu lagi-lagi tak elok,” ulasnya.

“Jangan dikira hanya memun­culkan satu kekuatan politik dominan lalu dipandang hebat. Justru check and ballance jadi ti­dak terjadi,” tegasnya.

Dari empat wilayah di Banten yang menggelar pilkada, hanya Kota Serang yang bisa dibilang paling terasa aroma persaingan­nya. Baliho, spanduk, umbul-umbul dan poster masing-ma­sing calon banyak bertebaran se-antero Kota Serang. Masing-masing parpol di Kota Serang juga getol mencari figur yang mumpuni untuk maju bersa­ing. “Kecuali Kota Serang yang kulturnya memang sedikit ber­beda,” jelasnya.

Di Kota Serang memang pola kekuatan politik mentradisi di tiap kecamatan. Tokoh-tokoh sentral di sana dari dulu rata-rata tokoh dengan basis massa yang ngeblok di satu wilayah. “Makanya Pilkada di Kota Se­rang selalu ramai pesertanya,” ulasnya.

Si pengirim pesan adalah Direktur Utama PT Konsep In­donesia Reseach & Consulting H Veri Muhlis Arifuzzaman. Je­bolan UIN Syarif Hidayaullah Ciputat ini memang sudah ber­tahun-tahun malang melintang berkecimpung di dunia pilkada di Indonesia. Veri sangat paham dengan dunia pilkada, baik se­cara research maupun pengalaman mensukseskan calon memenangi pilkada. (*/red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.