Bupati Zaki Dihadiahi Ayam Jago

Perayaan HUT Kabupaten Tangerang Meriah

TIGARAKSA, SNOL—Ada yang berbeda di perayaan HUT ke-74 Kabupaten Tangerang, Rabu (27/12). Sejumlah masyarakat ber­bondong-bondong ke kantor bupati di Tiga­raksa untuk menghadiahi sang bupati den­gan ayam jago sebagai simbol kejantanan seorang pemimpin yang diharapkan bisa membawa kemakmuran kepada rakyatnya.

Selain ayam jago, warga juga menyerah­kan hasil pertanian dan perkebunan kepada orang nomor satu di Kabupaten Tangerang itu. Ayam jago dan hasil pertanian itu meru­pakan pemberian dari ratusan warga yang datang dengan prosesi adat Seba. Saat menerima rombongan dan pemberian war­ga, Bupati Zaki didampingi Sekda Kabupat­en Tangerang Moch Maesyal Rasyid, sejum­lah kepala dinas dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tangerang KH Ues Nawawi.

Prosesi acara tersebut dikemas dengan adat sunda, yakni upacara Mapag Pangan­ten, dimana ditampilkan aneka tarian, salah satunya adalah tari merak, seni karawitan, bodoran (komedi) yang dikombinasikan dengan kesenian khas Banten, diantaranya debus dan pencak silat. Aksi Ki Lengser dan Nyi Lengser, tokoh dalam cerita Padjadjaran atau Mundinglaya Di Kusumah turut tampil. Aksin­ya pun mengundang gelak tawa para warga yang menyaksikan prosesnya.

Ketua Rombongan Seba, Hasan Doni mengatakan, acara itu dikemas dalam rangkaian HUT Kabupaten Tangerang untuk melestarikan kes­enian tradisional Kabupaten Tangerang. Menurutnya, saat ini kesenian serupa hampir punah tergerus oleh arus modernisasi, sehingga generasi muda saat ini hampir tidak mengetahuinya. “Kita berharap, tradisi ini terus dijaga, ditampilkan setiap keg­iatan besar, sehingga masyara­kat pun tahu, kita punya tradisi ini,” ujarnya.

Sementara terkait dengan ha­sil bumi yang diserahkan, Ketua Bersahaza itu mengatakan, jika karakter masyarakat Kabupaten Tangerang adalah masyarakat agraris, terbukti dengan ma­sih adanya kegiatan bercocok tanam yang saat ini masih di­lakukan terutama di wilayah pedesaan. “Agar kultur ini harus dikembangkan, karena menjadi watak dan karakter masyarakat Kabupaten Tangerang,” tam­bahnya.

Bupati Zaki Iskandar men­gatakan, Sedekah Bumi meru­pakan upacara adat masyarakat Kabupaten Tangerang sebagai simbol rasa syukur dalam me­nyambut Hari Jadi Kabupaten Tangerang. Pada acara terse­but, selain menampilkan dan­din hari atau tembang raja, ada lenser penari serta hasil panen rakyat khas Tangerang. Kegiatan ini pun diakhiri dengan doa.

“Sedekah Bumi ini sudah ja­rang dilaksanakan masyarakat Tangerang. Kali ini, kami akan menghidupkan kembali tradisi khas Tangerang tersebut. Iini meru­pakan kearifan lokal yang harus kita jaga dan lestarikan di tengah gem­puran budaya luar,” kata Zaki.

Lanjutnya, kegiatan ini terma­suk kearifan lokal sebagai nilai leluhur yang harus dihidupkan kembali dan dilestarikan. Ke­arifal lokal yang masih dimiliki masyarakat Tangerang mulai dari bendrung lesung, pesta panen padi yang berakar dari tradisi sunda, sintren berasal dari Jawa Cirebon, Lenong Tu­nah masih eksis sebagai warisan budaya betawi sampai dengan Tari Cukin pernah ngetop dalam pergaulan komunitas cina tem­po dulu, dan juga atraksi debus yang merupakan identitas Bant­en.

Zaki juga mengakui jika kara­kter masyarakat Kabupaten Tangerang adalah masyara­kat agraris. Acara Seba pun dikatakannya menjadi tradisi masyarakat yang saat ini telah bergeser menjadi masyarakat industri. “Tradisi ini harus dile­starikan, karena menjadi jati diri masyarakat tradisional yang berbasis agri kultur,” katanya.

Dengan ditampilkannya tradisi Seba itu dalam rangkaian HUT Kabupaten Tangerang, Zaki berharap tradisi itu tidak punah, sehingga generasi muda pun diharapkannya bisa turut melestarikan warisan budaya tersebut. “Kemajuan zaman ti­dak boleh merubah jati diri gen­erasi muda sebagai masyarakat Kabupaten Tangerang,” pung­kasnya. (aditya/gatot)

 

WH Sebut Dirinya Pemimpin Jaman Now

RAPAT Paripurna HUT Kabupaten Tangerang ke-74 di gedung DPRD Kabu­paten Tangerang kemarin diwarnai stand up comedy yang dilakukan Gubernur Banten, Wahidin Halim. “Lawakan” yang dibawakan­nya berhasil membuat peserta rapat paripur­na terpingkal-pingkal.

Wahidin memulai pidato dengan me­nyindir dua seniornya, mantan Wakil Gu­bernur Banten Masduki dan mantan Bu­ Dalam sambutannya, ia menpati Tangerang Ismet Iskandar. gaku, bahwa dirinya adalah pe­mimpin jaman now. ­

Berbeda dengan Ismet Iskan­dar dan Masduki. Padahal, kata dia, Ismet Iskandar adalah rekan seperjuangannya terdahulu saat sama-sama memimpin, WH di Kota Tangerang sedangkan Ismet Iskandar di Kabupaten Tangerang.

“Kalau pak Ismet dan pak Masduki adalah pemimpin ja­man old karena sudah lebih dulu pensiun, sedangkan saya masih pemimpin jaman now,” katanya, kemarin. Mendengar ucapannya itu, para pengunjung yang sebelumnya duduk-duduk, akhirnya berdiri, sambil tertawa dan bertepuk tangan.

Wahidin mengatakan, Kabu­paten Tangerang merupakan daerah dolar. Hal itu selalu ter­ungkap pada sejumlah rapat daerah antar Kabupaten/Kota di Bandung.

“Jadi kalau lagi ada rapat, se­lalu saja ada yang tanya gimana tuh kabar kabupaten dolar? ,”kata Wahidin.

Sebutan kota dolar itu, kata dia, merupakan kelebihan dari Kabupaten Tangerang sebagai salah satu penopang Ibukota Jakarta. Kabupaten Tangerang memiliki infrastruktur dan iklim investasi yang baik. Hal itu di­buktikan dengan semakin pesat­nya penanaman modal di Kabu­paten Tangerang.

“Kabupaten Tangerang seb­agai daerah strategis untuk in­vestasi,” katanya.

Di usia ke-74 ini, kata dia, Ka­bupaten Tangerang telah men­galami kemajuan cukup pesat. Sejumlah kemajuan terlihat dari banyak bidang yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Mari terus kita bangun Ka­bupaten Tangerang menuju Tangerang gemilang,” pungkas­nya.

Mantan Wakil Gubernur Bant­en periode 2007-2012, M Mas­duki, menyatakan, jalan raya di Kabupaten Tangerang sudah cu­kup baik. Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan dengan ketika dirinya masih muda.

“Kalau jaman saya muda dulu di Kronjo, sepeda tidak saya tumpangi. Sepeda justru saya gendong karena saking jeleknya jalanan. Tapi sekarang sudah jauh berbeda,” katanya.

Oleh itu, ia pun berpesan ke­pada para pemangku kebijakan agar dapat terus membenahi Kabupaten Tangerang ke arah yang lebih baik lagi. Termasuk nilai kebudayaan yang saat ini mulai terkikis. (mg1/gatot)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.