893.999 Benih Lobster Diselundupkan

Selama Setahun Melalui Bandara Soekarno-Hatta

BANDARA, SNOL—Ratusan ribu benih lobster diselundupkan sepanjang tahun 2017. Beragam modus di­lakukan para penyelundup untuk menghindari tangan hukum. Di Ban­dara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang aksi melanggar hukum ini terjadi hampir tiap bulan.

Sebanyak 893.999 benih lobster ditegah petugas Bandara Soetta sepanjang tahun 2017. Benih lobster senilai kurang lebih Rp 134 milyar tersebut ditegah oleh Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (KIPM) dan Keamanan Hasil Peri­kanan Jakarta I.

Kepala Balai Besar KIPM Jakarta I, Habrin Yake menjelaskan, dalam penegahan benih lobster ini pi­haknya dibantu oleh Kepolisian dari Bareskrim Mabes Polri, Polresta Ban­dara Soetta dan Aviation Security (Avsec).

“Periode Januari hingga Desem­ber 2017, kami melakukan penega­han 893.999 ribu ekor benih lobster dari 21 kasus upaya penyelundupan. Benih lobster yang berhasil ditegah jenis Mutiara dan Pasir,” kata Habrin beberapa waktu lalu.

Habrin merinci, penegahan per­tama dilakukan pada 21 Februari 2017 di Terminal 2 Keberangkatan. Sebanyak 37.602 benih lobster (3 ko­per) rencananya akan dibawa ke Sin­gapura berhasil digagalkan.

“Penegahan terbesar yakni di gu­dang sriwijaya air sebanyak 300.000 ekor benih lobster. Ini bisa dibi­lang unik, karena dicampur dengan mainan anak-anak sebanyak 22 ko­per. Ini rencananya akan dikirim ke Batam, namun dapat kami gagalkan,” kata Habrin.

Kasus unik lainnya lanjut Habrin, sebanyak 13 box yang berisi 93.036 ekor benih lobster dicampur den­gan Fabrics/T-Shirt (bahan konveksi) ditegah sebelum dikirim ke Singa­pura.

“Kemudian penyelundupan besar lainnya yakni sebanyak 208.756 ekor yang ditegah di hari yang sama pada Jumat (9/6/2017) lalu di Terminal 2 dan Terminal 3,” ungkap Habrin.

Menurut Habrin, modus pelaku dalam menyelundupkan benih lob­ster tersebut adalah menggunakan koper atau dibawa langsung oleh pelaku menuju terminal bandara atau hand carry.

“Paling banyak hand carry, yakni menggunakan koper, benih lob­sternya dimasukkan ke dalam plastik yang didalamnya ada spon dan air laut kemudian diisi oksigen. Mereka juga menggunakan pendingin sep­erti es dan jeli untuk menjaga benih tersebut tetap hidup,” jelas Habrin.

Masih menurut Habrin, seluruh upaya penyelundupan benih lobster tersebut terlebih dahulu transit Sin­gapura sebelum dikirim ke negara tujuan utamanya.

“Tujuan utama penyelundupan benih lobster ini sebenarnya ke Viet­nam, tapi para pelaku selalu singgah atau transit di Singapura,” ungkapnya.

Habrin menjelaskan, larangan pengeluaran atau melalulintaskan benih lobster dari wilayah Indone­sia sudah diatur di dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no­mor 56 tahun 2016.

“Larangan ini diatur dalam Per­Men KP nomor 56 tahun 2016 ten­tang larangan penangkapan atau pengeluaran lobster, kepiting dan rajungan dari wilayah Republik In­donesia,” jelas Habrin.

Kendati kasus penyelundupan melalui Bandara Soetta menurun dibanding dengan tahun 2016 lalu yakni sebanyak 31 kasus, dirinya ber­harap, agar nelayan dan masyarakat sadar akan dampak penangkapan dan penyelundupan benih lobster tersebut.

“Semoga di tahun ini dan seterus­nya tidak ada lagi kasus penangka­pan dan penyelundupan benih lob­ster lagi,” pungkasnya. (irfan/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.