PGRI Menilai Soal Isian dalam USBN SD Tak Tepat

JAKARTA, SNOL—Persatuan Guru Re­publika Indonesia (PGRI) menilai adanya soal isian pendek pada ujian sekolah berstandar nasional (USBN) sekolah dasar (SD) tidak tepat. Se­bab, bentuk soal isian tersebut dini­lai akan memberatkan siswa.

“Sebenarnya kalau SD itu wajib be­lajar sembilan tahun. Jadi menurut saya, ujian itu sebagai syarat saja, tidak harus berat,” kata ketua umum PGRI Unifah Rosyidi kepada wartawan.

Dia menyepakati, esensi kuriku­lum 2013 mengamanatkan untuk bisa menimbulkan sikap kritis pada siswa. Namun, menurut dia, sikap kritis tersebut tidak untuk diujikan dalam USBN. Yang benar, kata dia, siswa berhak mendapatkan kuali­tas pendidikan yang baik yang bisa membentuk pribadi yang kritis.

“Berpikir kritis itu harus, tapi ber­pikir kritisnya itu tidak untuk diujikan dalam USBN pada anak SD, jadi USBN jangan sampai dijadikan alat untuk mengurangi akses anak dalam meng­enyam pendidikan 9 tahun. Itu prin­sipnya,” tegas Unifah.

Meski USBN SD menjadi delapan mata pelajaran (mapel) tidak jadi di­laksanakan dan informasi tersebut hanyalah wacana. Sebab, sampai sekarang tidak ada juknis (petunjuk teknis) dari Kemendikbud RI terkait hal itu.

Meski begitu, informasi yang bere­dar itu sempat membuat para guru dan kepala sekolah waswas. Sebab, kabar itu sangat mendadak. Kesia­pan siswa pun belum maksimal.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, USBN tahun ini masih seperti sebelumnya. Tidak jadi delapan mapel.

“Surat edaran resmi memang be­lum ada. Namun sewaktu-waktu aturan bisa berubah kembali. Untuk itulah mental siswa tetap dipersiap­kan dan sekolah harus yakin bisa menjalankannya,” ucapnya.

Kepala SD Bergenjang Undaan Darmo Winoto mengatakan, misal­kan USBN jadi diterapkan delapan mapel, jelas memberatkan anak. Se­bab, persiapannya belum matang.

“Bisa dibayangkan USBN dengan persiapan yang terburu-buru. Pasti hasilnya kurang maksimal. Meski be­gitu, kami beserta guru tetap mem­persiapkan mental siswa,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muha­jdir Effendy menegaskan, ujian seko­lah berbasis nasional (USBN) sekolah dasar (SD) tahun ajaran 2017/2018 tetap mengujikan tiga mata pelajaran (mapel). Artinya, gagasan untuk men­gujikan delapan mapel pada USBN SD belum bisa diterapkan tahun ini. “USBN 8 Mapel belum diterapkan ta­hun ini,” kata Muhadjir.

Kepala Bidang Puspendik Kemen­dikbud Giri Sarana Hamiseno juga mengatakan, USBN SD akan kembali pada kebijakan lama dengan hanya mengujikan tiga mapel saja. Yaitu mapel Matematika, Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Meski begitu, dia memastikan, akan tetap ada soal isian pendek pada USBN tahun ini. “Bobot setiap butir soal isian sama dengan soal pilihan ganda. Jum­lah soal isian ada empat soal, dan pili­han ganda 36 soal,” kata Giri.

Sebelumnya, Badan Standar Nasi­onal Pendidikan (BSNP) mengusul­kan untuk mengganti ujian sekolah (US) menjadi USBN pada tahun 2018. Rencananya USBN ini akan diter­apkan pada tahun ajaran 2017/2018 dengan mengujikan sebanyak dela­pan mapel. Yaitu, Bahasa Indone­sia, Matematika, IPA, IPS, PKn, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK), juga Agama. Adapun khusus untuk siswa yang belajar berbasis kurikulum 2006, pelajaran seni buda­ya dan prakarya namanya adalah seni budaya dan keterampilan. (rol/jpg)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.