Dokter Spesialis Jiwa Masih Kurang

TANGERANG, SNOL—Perawatan korban penyalahguna zat di Kota Tangerang dinilai kurang mendapat perhatian. Penyebab kondisi tersebut diduga karena kekurangan dokter spesialis kejiwaan. Hal itu terungkap saat sim­posium Perhimpunan Dokter Spesi­alis Kejiwaan Indonesia (PDSKJI) di Rumah Sakit (RS) Mayapada, Cikokol, Tangerang, Sabtu (13/1).

Berdasarkan data PDSKJI Banten, psikiater (dokter spesialis kejiwaan-red) di Banten berjumlah kurang dari 25 dokter. Jumlah tersebut, dikatakan ketua pelaksana simposium, dokter spesialis kejiwaan Fransiska Irma Si­marmata, tak sebanding dengan jum­lah pasien penyalahguna zat di Kota Tangerang. Hal ini, sambung dia, me­nimbulkan banyak penyalahguna tak mendapat penanganan dengan opti­mal.

“Jumlah itu jelas gak sebanding den­gan jumlah pasien, kita aja dalam se­bulan bisa menangani puluhan pasien. Ini bisa lost case,” ungkap dokter yang berpraktik di RSUD Kota Tangerang tersebut.

Penyalahguna narkoba yang mulai sadar dan berhenti, dijelaskan Irma, bisa beralih mengonsumsi sejumlah zat dalam obat dengan resep dokter. Pemberian zat yang tidak sesuai resep dokter, sambung Irma, justru menim­bulkan ketergantungan terhadap zat tersebut. Dalam hal tersebut, dokter di pelayanan primer atau umum, sebut Irma, perlu mendalami riwayat pasien ini.

“Kita berharap, dokter-dokter di pelayanan primer, terutama dokter umum itu mereka lebih paham (tan­gani penyalahguna zat). Jadi kayak ini kan biasanya orang tahunya penyalah­guna zat aja, pasien narkoba aja, tapi suka gak dilihat ini penyebabnya apa, depresikah, cemaskah, tersus kenapa dia pakai lagi. Itu yang suka mis (per­sepsi). Harapan kita sih supaya penge­tahuannya meningkat,” imbuhnya.

Salah satu sebab penyalahgunaan zat yang sering terjadi adalah self med­ication yaitu penggunaan zat untuk mengobati perasaan tidak nyaman dan melupakan masalah yang dihadapi. Remaja dan dewasa muda, sebut Mus­topo, rentan mengalami depresi dan cemas. Namun, sambungnya, karena pengetahuan yang kurang akan ad­anya masalah psikologis yang dialami, mereka cenderung berusaha mengo­batinya sendiri yang dapat mengaki­batkan penyalahgunaan zat.

“Contoh kasus yang umum misalnya mabuk-mabukan alkohol untuk melu­pakan masalah. Padahal bila gejala ce­mas dan depresinya ditangani mung­kin saja penyalahgunaan zat tidak terjadi atau dapat dihentikan. Pada akhirnya, hanya beberapa yang memu­tuskan untuk berobat ke dokter umum atau dokter spesialis,” tambahnya.

PDSKJI Banten bekerjasama dengan RS Mayapada Tangerang menggelar Simposium Dokter bertajuk ‘Kormobi­ditas Gangguan Cemas & Depresi Pada Penyalahgunaan Zat’, Sabtu, (13/1). Bertempat di Auditorium Ang Boen Ing lantai 5 RS Mayapada, seminar tersebut diikuti ratusan dokter umum dan spe­sialis kejiwaan di Tangerang dan seki­tarnya. Mustopo mengatakan, pihaknya mengajak dokter umum dan dokter spe­sialis, khususnya di wilayah Tangerang untuk belajar dan berdiskusi bersama penanganan penyalahguna zat.

“Sehingga dapat lebih memahami mengenai adiksi NAPZA (Narkoba, Psikotropika, Zat Aditif) mengenali komorbiditas gangguan cemas dan depresi pada kasus adiksi, memberi­kan terapi sesuai kompetensinya, ser­ta melakukan tatalaksana yang tepat pada kasus-kasus adiksi,” tukasnya. (irfan/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.