Pemkab Serius Tangani Anak Kurang Gizi

Pola Hidup Sehat dan Makanan Bernutrisi Kunci Pencegahan

TANGERANG, SNOL—Pemerintah Ka­bupaten (Pemkab) Tangerang serius menangani anak-anak kurang gizi di Kabupaten Tangerang. Penanganan tersebut melalui pemberian vitamin, suplemen dan asupan bergizi lain­nya.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengaku, tidak ada anak gizi buruk di Kabupaten Tangerang, yang ada hanya anak kekurangan gizi. Belajar dari kasus sebelumnya, kata dia, sebanyak 25 anak pernah sempat mengalami kurang gizi. Data pemeriksaan terakhir menyebutkan, dari 25 anak itu, sebanyak 21 anak positif mengalami kurang gizi dan 4 anak lainnya dianggap mengalami kelainan retardasi mental, down syn­drome dan hidrosefalus.

Lanjut Zaki, pemerintah daerah juga sudah mengintruksikan para kader-kader Posyandu dan Puskes­mas, agar intens memeriksa dan me­nimbang berat badan balita dari usia 0 sampai 5 tahun. Tujuannya, agar bisa mendeteksi sejak dini dan lang­sung ditangani secara khusus bila terdapat anak yang memiliki kurang gizi dan kelainan.

“Kasus kurang gizi ini sudah di­tangani dengan baik dengan cara pemberian asupan vitamin, suple­men, gizi kepada para penderitanya,” kata Zaki, saat menggelar konfrensi pers di Pendopo Bupati di Jalan Kisa­maun, Kota Tangerang, Senin (29/1).

Menurut Zaki, kasus kurang gizi yang menimpa 21 anak tersebut adalah kasus lama yang terus ditan­gani oleh pihak Puskesmas. Tentu­nya sesuai dengan Standar Opera­sional Prosedur (SOP) penanganan anak kurang gizi di Puskesmas.

Zaki menilai, penyakit seperti itu disebabkan pola hidup yang kurang sehat, terutama pola makan yang memerlukan banyak asupan nutrisi ke dalam tubuh untuk menghindari kejadian kurang gizi yang menimpa pada anak. Untuk itu, kata dia, di­perlukan pemahaman secara detail mengenai perbedaan kasus gizi bu­ruk dengan kurang gizi yang diderita oleh anak. Hal itu untuk menghindari salah persepsi dalam penanganan kepada anak yang mengalami kasus kurang gizi atau gizi buruk.

“Perlu pemahaman antara gizi buruk dengan kurang gizi, sehingga dalam penyampaian informasi ter­kait kasus gizi buruk dan gizi kurang ini bisa disampaikan sebagaimana kenyataannya. Hal itu untuk meng­hindari informasi yang menyesat­kan,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabu­paten Tangerang Desiriana Dinardi­anti menjelaskan, kasus kurang gizi adalah salah satu istilah dari penya­kit Malnutrisi Energi Protein (MEP), dengan kata lain yaitu adalah se­buah penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan energi dan protein oleh korbannnya. Menurutnya, kejadian kurang gizi ini bergantung pada de­rajat kekurangan energi dan protein yang dialmi anak yang menderit­anya.

Lanjut Desi, penyebab terjadinya kurang gizi itu disebabkan asupan gizi, vitamin dan suplemen yang kurang didapat dari pola makan 4 se­hat dan 5 sempurna, serta pola hidup sehat yang tidak cukup.

“Jadi harus bisa dibedakan antara kurang gizi dan gizi buruk. Pend­erita gizi buruk memiliki ciri busung lapar atau perut yang menonjol, be­rat badan yang kurang dari 60 persen berat anak normal seusianya, tulang-tulang terlihat menonjol dan masih banyak lagi ciri lainnya, berbeda dengan kasus kurang gizi yang hanya terlihat kurus saja,” terang Desriana.

Belajar dari kasus di Kecamatan Kronjo yang baru-baru ini sempat menggemparkan, kata Desi, kasus tersebut merupakan hasil temuan lama dan bukan temuan baru. Meski begitu, pihaknya sudah memberi­kan penanganan secara tepat ke­pada para penderitanya dan saat ini kondisinya telah berangsur mem­baik.

“Hanya saja masih terdapat anak yang perlu pengawasan secara khu­sus dan intens terhadap anak yang memiliki penyakit kelainan terse­but,” ucapnya.

Menurutnya, untuk Kabupaten Tangerang, kasus kurang gizi ini be­rada pada angka 0,38 persen. Nilai itu kata dia, masih di bawah ambang batas dibandingkan dengan kasus-kasus lainnya yang dialami di daerah lain.

“Pola makan 4 sehat 5 sempurna dan pola hidup sehat kepada anak dan balita, termasuk yang masih berada di dalam kandungan untuk rutin melakukan pemeriksaan janin­nya, itu kunci dalam mencegah ter­jadinya kasus kurang gizi ataupun gizi buruk oleh anak,” pungkasnya. (mg1/aditya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.