Lahan Pertanian Kian Menyusut

SEPATAN,SNOL—Luas lahan pertanian di Kabupaten Tangerang kian mengalami penyusutan. Bahkan berdasarkan data Kantor Badan Peyuluh Pertanian (BPP) Kosambi dan Telukanaga, di wilayah Kecamatan Kosambi dan Teluknaga saja, jika di tahun 2016 lalu jumlah la­han pertanian masih mencapai 10 ribu hektar, kini di awal 2018 ini jumlahnya hanya tersisa 1.116 hektar.

“Data jumlah rata-rata penyusu­tan lahan pertanian yang lengkap di Kosambi dan Teluknaga ada di Di­nas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang. Namun saya bisa pastikan setiap tahun ada pengusutan,” kata Kepala BPP Kosambi dan Teluknaga Dadang kepada Satelit News saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (1/3).

Menurut Dadang, ada beberapa fak­tor yang meyebabkan lahan pertanian di Kosambi dan Teluknaga terus mey­usut, diantaranya, alih fungsi lahan pertanian menjadi gudang dan indus­tri serta perumahan. “Untuk mem­pertahankan lahan pertanian padi di Kosambi dan Teluknaga memang cu­kup sulit, diperlukan perhatian semua elemen baik pemerintah dan warga,” tuturnya.

Dadang menjelaskan, perhatian war­ga untuk mempertahan lahan perta­nian padi sangat penting misalnya tidak terbujuk dengan rayuan investor yang akan membeli lahan pertanian yang akan dijadikan gudang atau indusri.

Ditemui terpisah, Petani Babakan Asem Sarbeni mengaku menjadi petani bukan menjadi aktivitas utama melain aktivitas sampingan sebab dirinya me­miliki aktivitas pedagang ikan keliling. “Banyak juga teman saya yang dulu menjadi petani beralih pekerjaan men­jadi buruh gudang setelah menjual lahannya,” singkatnya.

Sebelumnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang menyoroti keberaraan La­han Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) atau lahan pertanian abadi. Dewan berharap konsistensi Pemer­intah Kabupaten (Pemkab) Tangerang melalui Dinas Pertanian tidak mengen­dur guna mempertahakan realisasi pro­gram tersebut.

“Pemda harus bisa mempertah­ankan lahan-lahan yang sudah ma­suk regulasi dalam peraturan dae­rah, sehingga dapat berimbas pada ketersediaan lahan pertanian abadi kedepannya,” kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Barhum kepada Satelit News, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, saat ini dinas terkait ter­kesan tidak tegas dalam merealisasikan program bupati terkait lahan pertanian abadi. “Pemerintah desa juga harus mendukung program bupati ini, meski tidak ada pendapatan langsung ke desa, tapi sangat bagus untuk menjaga ketah­anan pangan kita,” terangnya.

Ia berharap, Pemda tidak pesimis dalam merealisasikan program yang berdampak positif bagi masyarakat luas. Apalagi pengelolaannya bisa men­datangkan investor besar.

“Kalau lahannya tersedia, misal setengahnya bisa dikerjasamakan den­gan investor agrobisnis. Contohnya untuk palawija, dari penanaman hing­ga panen dan produksi. Itu bisa me­nyerap tenaga kerja dan memberikan pendapatan juga bagi daerah,” tandas­nya. (imron/hendra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.