Bea Cukai Tindak Impor Miras Ilegal

26 Kasus Penindakan Rugikan 17 M

SERPONG, SNOL—Kantor Wilayah Direktorat Jender­al Bea dan Cukai Banten, melakukan 26 penindakan dalam kurun dua bulan se­jak Januari hingga Februari 2018. Salah satu kasus yang mencolok adalah upaya penyelundupan minuman beralkohol atau minu­man keras (Miras) melalui pelabuhan Merak.

Kepala Kanwil Bea dan Cukai Banten, Decy Arifin­sjah menjelaskan, potensi kerugian negara yang ber­hasil diselamatkan dari seluruh penindakan men­capai Rp 17 miliar lebih. Penindakan itu 3 dianta­ranya penindakan terhadap komoditi tekstil barang im­por, 8 penindakan penjua­lan minuman beralkohol ilegal, 11 penindakan ter­hadap peredaran hasil tem­ bakau ilegal, 2 penindakan ter­hadap importasi barang modal dan minuman keras ilegal.

“Total ada 7.743 item produk tekstil, 2.903.960 barang ha­sil tembakau dan 14.940 botol minol lokal, serta 13.884 mi­nol impor, dengan nilai barang mencapai Rp8 miliar dari 26 penindakan tersebut mengaki­batkan potensi kerugian negara sebesar Rp17 miliar lebih,” ucap Decy, Selasa (6/3) di Kanwil DJBC Banten.

Selain barang hasil penin­dakan, Bea Cukai juga meny­ita sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan kasus terse­but. Berupa 4 truk, 161 batang kayu, 17 lembar fiber dan 1.700 kelapa yang digunakan untuk mengelabui petugas.

“Jadi minol impor ini mereka bawa di dalam truk dan ditu­tup dengan kayu balok, papan dan kelapa. Untungnya petugas kami jeli dan menemukan ri­buan botol minol,” ucapnya.

Ditambahkan Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan, dalam upaya penyelundupan minol ini, pihaknya melakukan pengungkapan di Pelabuhan Merak dan di rest area Karang Tengah, Kota Tangerang.

“Jadi berdasarkan pemerik­saan petugas, 4 truk ini mem­bawa minol impor ilegal dari Jambi, 3 truk kami amankan di Pelabuhan Merak, satu di Rest Area karang Tengah. di­perkirakan akan dikirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ucap dia.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Banten, mensinyalir peningkatan upaya penyelundupan minuman ber­alkohol impor melalui jalur pe­sisir timur Kepulauan Sumatera.

“Setelah kami telusuri mer­eka ini datang dari Malay­sia/ Singapura melalui pesisir timur Sumatera, dan diangkut ke darat untuk dibawa ke Pulau Jawa,” ucap Kepala Bidang P2 (Penyidikan dan penindakan) DJBC Banten, Winarko Dian Subagyo

Diterangkan dia, modus pe­nyelundupan minol impor ini, akibat tingginya bea masuk im­por minol luar negeri ditambah beban-beban biaya lain. “Minol impor ini kena bea masuk 150 persen ditambah cukai 139 ribu per liter dan PPN 10 persen,” terang dia.

Dia mengungkapkan, pi­haknya bersama KPK, TNI dan Polri telah sepakat di pertenga­han tahun 2017 kemarin, untuk melakukan penertiban impor­tasi di pelabuhan resmi.

“Dari hasil penyidikan kami selama satu minggu ini, kami dapati 13.884 botol minol impor ilegal,” ucap Winarko.

Menurut Winarko, modus pengiriman importasi minuman alkohol ini berubah dari mo­dus sebelum adanya kenaikan bea masuk, minol impor. “Kami duga ini diangkut melalui perai­ran timur Sumatera dan dibawa melalui jalur darat ke Pulau Jawa, kami duga akan dibawa ke Jakarta dan sekitarnya,” kata dia.

Dipastikannya, 13.884 minol impor yang berhasil digagalkan penyelundupannya itu, adalah asli. Hal itu terlihat dari kema­san dan labeling pada botol mi­nol tersebut. “Dari kasat mata dugaan kami ini asli, tapi mesti duji lab. Nanti kami periksa lab saat hendak dimusnahkan,” ucap dia.

Dalam pengungkapan ini, Bea Cukai Banten menetapkan pengelola barang sebagai ter­sangka. “Setelah kami telusuri ini dari Jambi, dibawa menggu­naka truk yang ditutupi kelapa parut, ratusan balok kayu dan fiber. Ternyata ini modus untuk mengelabui pemeriksaan petu­gas,” katanya. (irm/bnn/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.