Mangkir Dari Panggilan Kejari, Pengusaha Bakal Dijemput Paksa

Hanya 1 Orang Pengusaha Hadir, 4 Orang Lainnya Mangkir

PANDEGLANG,SNOL–Saat pendala­man kasus dugaan korupsi proyek Program Pembangunan Infrastruk­tur Perdesaan Tertinggal (P3T), yang hingga kini terus ditangani Kejak­saan Negeri (Kejari) Pandeglang. Terungkap bahwa, pekerjaan pem­banguan Sarana Air Bersih (SAB) yang merupakan salah satu jenis pekerjaan P3T, di Kecamatan Ciba­liung, yang dilaksanakan oleh CV Mulya Karya, sama sekali tidak per­nah diperiksa, dinilai dan tak diawasi oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) maupun pengawas.

Namun demikian, pekerjaannya tetap dibayar atau dananya dicair­kan oleh Dinas Cipta Karya Penataan Ruang dan Kebersihan (DCPK) Ka­bupaten Pandeglang. Sesuai dengan pagu, atau nilai proyek yang tertera dalam kesepakatan.

Kepala Kejaksaan Negeri (Ka­jari) Pandeglang, Nina Kartini men­gatakan, seharusnya hari ini (Se­lasa,6/3) ada lima pengusaha yang dimintai keterangan. Tetapi yang datang, hanya satu pengusaha saja yakni, Direktur CV Mulya Karya yang didampingi seorang Komendeternya.

“Dari lima yang dipanggil, yang hadir hanya Direktur dan didam­pingi Komenditernya dari CV Mu­lya Karya. Hasil dari keterangan pengusaha itu, ia mendapat proyek P3T dari dinas terkait. Proyek yang dik­erjakan itu ada dua yakni, keduanya pembuatan SAB, dengan masing-masing pekerjaan anggaranya Rp 84 juta,” terang Nina, Selasa (6/3).

Dari hasil keterangannya tam­bahnya, pengusaha itu menjelas­kan bahwa pekerjaan yang dilak­sanakannya sudah sesuai spesifikasi dan dapat diselesaikan. Akan tetapi, pekerjaan itu tak pernah mendapat pengawasan dan penilaian.

“PPK dan pengawasnya tidak per­nah turun ke lapangan, untuk meni­lai pekerjaan yang dilaksanakan CV Mulya Karya tersebut. Itu salah satu keterangan dari pengusaha itu,” tan­dasnya.

Nina juga menegaskan, pihak yang tidak memenuhi panggilannya akan dipanggil ulang. Bahkan menu­rutnya, ia tidak akan segan-segan melakukan upaya jemput paksa, jika masih ada yang membandel atau ti­dak mengindahkan panggilannya.

“Kalau berkali – kali dipanggil pak­ai surat tidak hadir juga. Terpaksa, dengan cara penyidik dalam peny­elidikan ini boleh memanggil paksa atau menjemput paksa, untuk dim­intai keterangan,” tegasnya.

Sementara, usai menjalani pemer­iksaan sekitar pukul 17.10 WIB, Di­rektur CV Mulya Karya, Mulyat awal­nya enggan diwawancara wartawan. Bahkan, ia membantah jika dirinya diperiksa jaksa penyidik Kejari Pan­deglang, terkait kasus dugaan korup­si proyek P3T.

Akan tetapi, setelah terus-menerus diikuti dengan sambil diajukan per­tanyaan sampai keluar halaman Kejari Pandeglang. Barulah ia mau sedikit bicara, dengan bantahannya. “Siapa yang diperiksa. Pertanyaan dari pihak Kejari cuman 10. Orang saya mah tidak tahu apa-apa. Besa­ran paketnya Rp 80 juta. Ya, dua pa­ket nilainya sama. Kalau itu (ada per­tanyaan dari pihak Kejari soal suap ke dewan,red) tidak ada, dapat dari mana saja, itu saja yang ditanyakan,” kilahnya.

Diberitakan sebelumnya, dari lima orang pengusaha yang dipang­gil untuk memberikan keterangan, hanya satu orang pengusaha yang hadir yaitu Direktur CV Cahaya Bin­tang Sembilan, Andi Haikal. Semen­tara, empat orang pengusaha lainnya mangkir alias tak memenuhi panggi­lan tersebut.

Pantauan dilokasi, sekitar pukul 14.00 WIB, Andi mendatangi gedung Kejari Pandeglang dan langsung ma­suk ke ruangan Seksi Pidana Khusus (Pidsus), untuk menjalani pemerik­saan. Ia menjalani pemeriksaan seki­tar 3 jam (dari jam 14.00 WIB – jam 17.00 WIB).

Dalam kesempatanya, ia mem­benarkan jika kedatangannya itu ter­kait urusan P3T. Akan tetapi, ia mem­bantah jika dirinya diperiksa. Karena, ia mengaku hanya diminta keteran­gan oleh jaksa Kejari. “Bukan diperik­sa, hanya diminta keterangan. Terkait pengerjaan kegiatan pembangunan P3T,” kata Andi, Senin (5/3).

Proyek yang dikerjakannya tam­bah Andi, lokasinya di Kampung Pasir Cau, Desa Karang Setra, Keca­matan Koroncong, Kabupaten Pan­deglang. Bentuk pembangunan yang dilaksanakannya, berupa pemban­gunan drainase.

“Pekerjaannya sudah selesai sebe­lum tanggal 20 Desember 2017. Karena, kontraknya memang harus diselesaikan tanggal 20. Saya sudah dibayar, nilainya pekerjaannya sebesar Rp 199.370.000,” akunya. (nipal/mardiana)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.