Hunian Hotel Mulai Menurun

Diduga Akibat Informasi Soal Potensi Tsunami

KAB SERANG, SNOL—Kabar pemberitaan tentang kemungkinan tsunami dengan ketinggian sekira 57 meter yang akan melanda daerah Pandeglang oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengundang perhatian serius dari sejumlah kalangan. Tak terkecuali dari di kalangan industri perhotelan yang diketahui banyak memadati di sejumlah kawasan pesisir di provinsi Banten.

Salah satunya diungkapkan oleh General Manager Aston Anyer Beach Hotel, Doddy Fathurahman. Ia tidak menampik bila kabar yang masih menjadi trending topic di masyarakat itu sudah berdampak pada jumlah hunian. “Kalau sudah di hari Jumat itu biasanya jumlah hunian kita di kisaran 70 persen, namun sekarang cuma 40 persen,” ujarnya, Minggu (8/4. Pasca beredarnya kabar tersebut, kata dia, pihaknya sempat dihujani pertanyaan oleh sejumlah pelanggan yang ingin mengetahui perkembangan kabar lebih lanjut.

“Kalau membaca berita itu kan memang kekhawatiran dari customer itu ada, tapi untungnya masyarakat kita juga sudah cerdas, jadi tidak menelan kabar itu secara mentah-mentah,” terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Banten ini.

Namun demikian pihaknya maupun di internal IHGMA intens melakukan kajian atas penurunan jumlah hunian tersebut. Ia juga menduga menurunnya jumlah hunian itu turut didukung oleh sejumlah faktor lainnya. Seperti libur panjang yang baru dilalui pada pekan lalu. “Di internal IHGMA kita juga berusaha untuk mengcounter pemberitaan itu dengan pemberitaan yang positif dengan tujuan untuk meyakinkan tamu-tamu yang didominasi berasal dari luar Banten, tanpa menyalahkan kajian dari BMKG tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya,  Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten mengambil sikap tegas terkait informasi potensi tsunami 57 meter di Pandeglang. Soalnya, informasi itu dinilai telah meresahkan warga dan berpotensi menghambat investasi. “Kita, Polda, enggak diam. Nanti kita akan panggil BMKG pusat dan daerah, minggu depan sudah kita panggil,” kata Direktur Reskrimsus Polda Banten Komisaris Besar (Kombes) Abdul Karim, Jumat (6/4) lalu.

Informasi potensi tsunami itu disampaikan oleh Perekayasa Bidang Kelautan Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BTIPDP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, dalam Seminar Ilmiah oleh BMKG dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-68 di gedung BMKG, Jalan Angkasa Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/4) lalu.

“Dengan pernyataan itu muncul beberapa kekhawatiran. Pertama, muncul kekhawatiran berlebihan masyarakat di Pandeglang. Kedua, terkait investasi di Pandeglang. Pengaruhnya sampai di sana. Investor jadi takut karena akan ada tsunami,” jelas Abdul Karim.

Perwira menengah kepolisian itu mengaku, berencana memintai keterangan seluruh pihak terkait acara seminar tersebut. “Surat panggilan kita layangkan untuk dihadirkan Rabu dan Kamis. Semuanya (dipanggil-red), penyelenggara seminar, BMKG, dan ahlinya,” kata Abdul Karim.

Dia menilai, pernyataan terkait potensi tsunami itu belum dapat diuji kebenarannya. Oleh sebab itu, penyidik akan mengecek hasil penelitian yang dilakukan Widjo Kongko. “Belum bisa diuji, hasil analisis yang belum bisa duji. Akan kita cek penelitian dari mana,” kata Abdul Karim.

Polisi juga berencana meminta keterangan ahli terkait hasil penelitian yang disampaikan Widjo Kongko. “Kalau hasilnya berbeda, (konsekuensi pidana) harus kena menurut saya,” tegas Abdul Karim. Namun, sambung Abdul Karim, polisi akan menggali lebih dahulu motif dari Widjo Kongko menyampaikan informasi tersebut. “Kita kan mau lihat dulu motifnya, apa dasarnya dia mengatakan seperti itu dan dirilis media,” kata Abdul Karim. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.