Tak Henti Bersyukur Ibadah Umrah Berjalan Lancar

Cerita Perjalanan Umrah Bersama Malika Tour & Travel (3)

DEDDY MAQSUDI

RASA syukur terpan­car dari wajah-wajah jamaah umrah Ma­lika Tour & Travel usai menunaikan tugas utama menjalankan umrah. Lega rasanya bisa melaksanakan semua rukun umrah tanpa halangan apa­pun. “Alhamdulillah ya Allah,” ucap­ku lirih.

Ibadah umrah memang tidak terlepas dari faktor fisik. Butuh tubuh yang prima agar bisa men­jalankan semua rukun yang telah ditetapkan. Dari mulai tawaf dan sa’i, total para jamaah melakukan tujuh kali putaran. Rata-rata wak­tu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ibadah tersebut adalah dua jam. Bisa lebih bila putaran tawaf yang diambil berada di sisi luar, dan dibarengi dengan istira­hat.

Jarak tempuh jalan kaki yang harus dilakukan para jamaah juga tidak pendek. Untuk tawaf misal­nya, dalam satu putaran titik ter­pendek dengan Kabah, sekitar 200 meter. Artinya, minimal seorang jamaah harus berjalan kaki den­gan jarak 1.400 meter. Bila putaran yang diambil adalah area terjauh dari Kabah atau di lantai dua, lan­tai tiga dan lantai empat, maka jarak tempuh yang diambil bisa lebih panjang lagi.

Sementara untuk sa’i, jarak tempuh yang harus diambil dari bukit shafa ke marwah adalah sekitar 450 meter. Bila tujuh kali putaran, maka jaraknya menjadi sekitar 3,15 km. Cukup berat un­tuk ukuran seorang lansia atau yang memiliki penyakit tertentu. Tak heran, ada yang harus meng­gunakan jasa kursi roda di lokasi untuk melakukan dua ibadah penting tersebut.

Bagi sebagian jamaah, meng­gunakan kursi roda bisa jadi juga memberatkan dari sisi finan­sial dan kenikmatan beribadah. Tak sedikit, mereka yang sudah renta, berusaha menyelesaikan prosesi ibadah tawaf dan sa’i wa­lau harus berjalan perlahan, dit­ambah sesekali beristirahat dan minum air zamzam.

Di area tawaf dan sa’i, banyak terdapat tempat minum air zamzam yang diperuntukan buat jamaah. Bentuknya mirip dispenser. Warnanya cokelat. Ja­maah bisa memilih air zamzam yang dingin atau yang tidak. Para jamaah juga tidak perlu khawatir karena di lokasi itu sudah banyak tersedia gelas plastik yang sekali pakai langsung dibuang. Tidak sedikit jamaah yang membawa botol air mineral bekas untuk di­isi dengan air zamzam. Biasanya, jamaah yang membawa botol itu untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh atau sekadar untuk di­minum di tempat penginapan.

“Saya yang rajin olahraga saja merasakan pegal yang luar biasa. Apalagi yang yang jarang olahraga ya? Tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” kata Roni Se­tiawan, teman satu rombongan saya. Roni Setiawan ini adalah seorang pengusaha UMKM yang tinggal di kawasan Citra Raya, Ci­kupa Kabupaten Tangerang.

Tak ayal, begitu selesai um­rah dan kembali ke kamar hotel, para jamaah langsung rebahan. Sebagian diantaranya ada juga yang langsung mengoleskan krim pegal-pegal, terutama untuk kaki. “Betis lumayan kenceng juga,” timpal Muhammad Sidik, teman rombongan lainnya.

Hari kedua di Kota Mekah, para jamaah diberi waktu istirahat. Maksudnya, tidak ada jadwal ke­giatan dari Malika Tour & Travel selaku penanggungjawab rom­bongan. “Tapi kita imbau agar para jamaah perbanyak ibadah di Masjidil Haram, baik ibadah wa­jib maupun ibadah sunah,” kata Ustadz H Zamzami, pimpinan rombongan sekaligus pembimbing umroh kami.

Di hari ketiga, jamaah umrah Malika Tour & Travel diajak berzi­arah ke tempat-tempat bersejarah di kawasan Kota Mekah. Pimpinan tour sudah menyiapkan bus untuk mengangkut para jamaah. Lokasi yang pertama kali dituju adalah Jabal Tsur.

Bukit Tsur terkait erat dengan peristiwa hijrah Nabi Muham­mad Saw ke Madinah. Letaknya di tengah-tengah Makkah, sekitar 4 Km di selatan Masjidil Haram. Bukit Tsur berada di kawasan Kudai. Untuk naik ke puncaknya diperlukan waktu sekitar satu setengah jam. Di bukit ini terdapat gua, tingginya sekitar 1,25 meter dengan luas 3,5 meter persegi. Ada dua lubang masuk di sebelah barat dan timur. Lubang di sebe­lah barat merupakan pintu masuk yang digunakan Rasulullah Saw bersembunyi. “Di gua itulah Ra­sulullah Saw bersama Abu Bakar Shiddieq bersembunyi selama tiga hari dari kejaran kaum kafir Quraisy ketika hijrah ke Madinah,” jelas Ustadz Abdul Rahman.

Karena keterbatasan waktu, rombongan tidak sempat untuk menaiki gunung tersebut. Perjala­nan kemudian dilanjutkan ke Ja­bal Rahmah di Arafah. Sesuai na­manya, bukit ini diyakini sebagai pertemuan antarar Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari Surga oleh Allah SWT.

Karena letaknya yang dekat, se­bagian jamaah ada yang naik sam­pai ke tugu Jabal Rahmah. Saya termasuk yang penasaran dengan Jabal Rahmah ini. Untuk menuju puncak tugu Jabal Rahmah, dibu­tuhkan waktu sekitar 15 menit. Jalannya cukup terjal dan ber­batu. Tingginya sekitar 70 meter. Jamaah harus berhati-hati, karena selain batu, areanya cukup licin banyak debu.

Sampai di puncak tugu, banyak jamaah yang memanjatkan doa. Tak sedikit dari mereka menulis nama-nama agar diberikan kelan­caran jodoh dan dan kelanggengan pasangan. Bukan hanya di tugu, di batu-batu sekitar Jabal Rahmah juga penuh dengan core­tan tangan.

Setelah selesai dari Jabal Rahmah, perjalanan dilanjutkan ke Mina, yakni tempat atau lokasi melempar jumroh saat musim haji. Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan bina­tang kurban. Di Mina ada Masjid Khaif yang merupakan masjid di­mana Rasulullah Saw melakukan salat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan iba­dah Haji. Di kawasan itu, tampak berjejer tenda-tenda jamaah haji. Bentuknya kerucut. “Tenda ini dibuat khusus yang terhindar dari kebakaran,” ujar Ustadz Abdul Rahman.

Perjalanan kemudian dilanjut­kan ke Masjid Ji’ranah. Ji’ranah sendiri adalah sebuah desa yang berjarak sekitar 26 km dari Kota Makkah. Nama ini pada mulanya adalah sebuah nama yang di­berikan kepada seorang wanita yang mengabdikan dirinya men­jaga dan membersihkan sebuah masjid yang terdapat di desa tersebut.

Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat (miqat makani), khususnya bagi pen­duduk Kota Makkah. Dan di Masjid Ji’ranah ini kami semua mengambil miqat untuk kembali melakukan ibadah umrah yang kedua. Karena akan ibadah umrah lagi, kami juga diharuskan me­makai pakaian ihram yang sudah disiapkan sebelum perjalanan zi­arah tadi. (*/bersambung)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.