“Subhanallah, Luar Biasa Indahnya”

Cerita Perjalanan Umrah Bersama Malika Tour & Travel (6)

DEDDY MAQSUDI

JELANG tengah malam rombongan Malika Tour & Travel tiba di Madinah. Malam itu hawanya cu­kup dingin. Cuaca di Ta­nah Suci saat itu memang tengah memasuki masa transisi. Berbe­da dengan di Kota Mekah, dingin malam di Kota Madinah agak be­gitu terasa menusuk tulang.

Di Kota Madinah, kami men­ginap di Hotel Al Rawda Royal Inn. Sebuah hotel bintang lima yang berada tepat di depan pintu 17 Masjid Nabawi. Hotel-hotel bintang lima di Madinah rata-rata berada di sekitaran pintu masuk Masjid Nabawi. Jumlah pintu masuk Masjid Nabawi sendiri sekitar 40-an pintu. Selain hanya untuk lobi, sekitaran lantai 1 hotel-hotel di Madinah banyak terdapat ruko yang menjual beragam oleh-oleh. Dari mulai kelas elit sam­pai kelas yang biasa.

Setelah melakukan chek in, rombongan dianjurkan untuk istirahat. Maklum, menempuh sekitar 6 jam perjalanan dari Kota Mekah ke Kota Madinah jelas sangat terasa. Saya sendiri tidak langsung istrirahat. Itu karena saya penasaran dengan Raudhah, Taman Surga. Sebuah tempat yang menjadi tujuan utama para jamaah saat berada di Masjid Nabawi.

Saya pun bergegas memasuki Masjid Nabawi. “Subhanallah, saya dalam hati begitu melihat area pelataran Masjid Nabawi. Kawasan pelataran Masjid Nabawi terdapat banyak paluar biasa indahnya,” gumam yung-payung raksasa yang bisa mengembang dan menutup se­cara mekanis. Lantai pelataran terjaga selalu bersih dan wangi. Pintu masjid selalu dijaga Askar. Dinding-dinding, tiang pilar dan langit-langit penuh ornamen dan kaligrafi yang sangat bagus dan indah. Kini luas keseluru­hannya Masjid Nabawi 98.500 meter persegi (9,85 hektare).­

Malam itu, saya berusaha mencari pintu masuk ke Raud­hah. Dari beberapa pintu yang saya lihat, semuanya tutup. Saya terus menelusuri pintu-pintu Masjid Nabawi. Saya melihat banyak jamaah yang berjalan ke sisi kanan dari hotel tempat kami menginap. “Mungkin para jamaah itu mau ke Raudhah,” pikir saya dalam hati. Akhirnya saya ikuti arah para jamaah tersebut.

“Pak, pintunya kok pada di­tutup ya?” tanya saya yang keb­etulan bertemu dengan jamaah asal Indonesia. “Iya mas, ka­lau malam hanya pintu yang ke Raudhah saja yang dibuka,” jawab jamaah yang berasal dari Riau itu. Jamaah itu sudah tiga hari berada di Madinah, jadi se­dikit banyak tahu kondisi Masjid Nabawi.

Dan benar saja, dari kejauhan saya lihat banyak jamaah yang berkerumun memasuki satu-satunya pintu masjid yang di­buka. Terdapat di kawasan Gate 1 Masjid Nabawi, sementara ho­tel tempat menginap saya ada di Gate 17. Penampakan dari luar, area Raudhah ditandai den­gan kubah hijau. Kubah perak sendiri merupakan penanda mihrab tempat imam. Untuk masuk Raudhah, pintu terdekat dari gate Babus Salam atau gate Jibril.

Karena penasaran, saya buru-buru masuk. Dari dalam, sua­sana megah sangat terasa. Se­cara bahasa, “Raudhah” berarti taman. Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Lokasinya terletak di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah. Luas Raudhah dari arah timur ke barat sepanjang 22 meter dan dari utara ke selatan sepanjang 15 meter.

“Di antara rumahku dan mim­barku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas te­lagaku,” (HR Abu Hurairah RA).

Area Raudhah ditandai den­gan karpet hijau. Selain area Raudhah (karpet hijau), semua area salat Masjid Nabawi berkar­pet merah. Jadi selama yang kita injak masih karpet merah, be­rarti belum sampai di Raudhah.

Malam itu, jamaah yang in­gin memaskui Raudhah sangat padat. Hampir 24 jam kepa­datan selalu terjadi di tempat yang dipercaya sebagai tempat yang makbul untuk meman­jatkan doa. Karena sangking padatnya, petugas membagi waktu untuk jamaah pria dan wanita. Jika jamaah pria ham­pir setiap saat bisa “berburu” Raudhah, jamaah wanita ada jam-jam tersendiri. Biasanya pada waktu Dhuha, antara Dhuhur dan Ashar, serta di malam hari. Karena super pa­datnya jamaah, petugas mem­batasi kuota dengan kain putih tebal.

Terdapat tulisan warning ber­bahasa Arab, Inggris, Turki, dan Indonesia. “Jangan memak­sakan diri dan menyakiti sesama pada saat memasuki Raudhah dengan saling mendorong dan berdesak-desakan. Tunggulah giliran dengan izin Allah, masih banyak waktu untuk Anda untuk memasuki Raudhah dan sholat di dalamnya.” Begitu bunyi tu­lisan tersebut.

Karena masih berasa capek perjalanan, malam itu saya pu­tuskan untuk menunda ke ta­man Raudhah. Apalagi, di jelang subuh, antrean jamaah yang menuju Raudhah sangat ban­yak. “Biasanya kalau jam segini, jamaah yang antre itu berharap mendapat giliran di Raudhah pas waktu subuh. Jadi mereka dapat waktu banyak untuk ber­doa,” kata jamaah Indonesia yang sudah berdiri antre.

Malam itu saya hanya melihat-lihat kawasan Raudhah sambil terus menerus bersholawat ke­pada Nabi. Tampak para askar sibuk mengatur jamaah yang berdoa di area itu. “Haji, haji, sudah, sudah,” begitu perintah askar kepada jamaah Indonesia yang dianggap terlalu lama ber­doa di Raudhah.

Saya kembali ke hotel untuk istirahat sejenak, bersiap un­tuk menunaikan Salat Subuh di Masjid Nabawi, sarapan, lalu “berburu” Raudhah. (*/bersam­bung)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.