Berdoa Bisa Kembali Lagi ke Tanah Suci

Cerita Perjalanan Umrah Bersama Malika Tour & Travel (8-Habis)

DEDDY MAQSUDI

SEJAK pulang um­rah, banyak sekali teman atau kerabat yang menanyakan bagaimana pen­galaman perjalanan umrahku. Karena menurut mereka bi­asanya ada cerita-cerita unik selama kita di sana.

Hari ke sembilan adalah terakhir dari semua rangkaian perjalanan rombongan Malika Tour &Travel di Tanah Suci. Jadwal terakhir sebelum ter­bang ke Jakarta melalui Banda­ra Prince Abdul Aziz Madinah adalah menyambangi sejum­lah destinasi di Kota Madinah. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Masjid Quba.

“Masjid Quba memiliki keu­tamaan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, barangsiapa yang keluar dari rumahnya kemudi­an mendatangi masjid ini, yak­ni Masjid Quba kemudian salat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia menjalankan umrah,” kata Ustadz Abdul Rahman, pembimbing umroh kami.

Masjid Quba terletak di tepi Kota Madinah, tepatnya 3 km di arah selatan Masjid Nabawi. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dikutip dari berberapa sum­ber, Rasulallah Saw membangun Masjid Quba setelah tiba dari perjalanan hijrah dari Kota Makkah. Saat itu, di Quba, Rasulullah disambut meriah oleh penduduk Madinah sambil menyanyikan nasyid thala’al badru’alaina. Beliau singgah di Quba selama empat hari, dan di waktu itu beliau memerintah­kan untuk membangun Masjid Quba bahkan ikut terlibat dalam proses pembangunannya.­

Karena kehebatannya inilah Allah mengabadikannya dalam Alquran surat at-Taubah ayat 108: “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pan­tas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka mem­bersihkan diri, dan Allah me­nyukai orang-orang yang mem­bersihkan diri,”

Dari berbagai sumber dise­butkan bahwa Masjid Quba telah direnovasi dan diperluas oleh Kerajaan Arab Saudi. Se­hingga masjid yang ada saat ini telah berubah jika dibanding­kan pada saat zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Masjid Quba dulunya berdiri di atas kebun kurma dengan luas 1.200 meter persegi. Setelah direnovasi, luasnya sekitar 5.860 meter persegi dan dapat me­nampung 20 ribu jamaah. Mas­jid Quba memiliki 19 pintu den­gan 3 pintu utama. Dua pintu untuk masuk jamaah laki-laki, satu pintu lainnya untuk masuk jemaah perempuan.

Tepat sebelum waktu Ashar, kami sudah sampai di Masjid Quba. Suasana di sore itu keb­etulan tidak terlalu ramai. Se­belum menunaikan Salat Ashar, kami bisa dengan nyaman beri­tikaf, melaksanakan salat sunah dan ibadah lainnya. “Alhamdu­lillah, selain bisa salat sunah, kita juga bisa melaksanakan salat wajib di masjid ini ya,” kata Roni Setiawan, teman satu rom­bongan kami.

Selesai dari Masjid Quba, per­jalanan kami lanjutkan ke tem­pat bersejarah lainnya di Kota Madinah. Seperti Masjid Kib­latain, yakni sebuah masjid ini dikenal dengan dua arah kiblat. Masjid yang dulu bernama Mas­jid Bani Salamah itu menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim. Sayang, di masjid ini kami tidak singgah. Karena keterbatasan waktu, kami han­ya melihat masjid tersebut dari dalam bus. Perjalanan kemudi­an kami teruskan menuju Bukit Khandaq. Sebuah tempat berse­jarah yang dikenal dengan per­ang Khandaq. Sama seperti di Masjid Qiblatain, di Bukit Khan­daq ini kami juga tidak singgah.

Jelang waktu Maghrib, rom­bongan tiba di Jabal Uhud. Jabal Uhud adalah bukit terpanjang di Madinah yang membentang 6 km. Nama Jabal Uhud bisa diartikan sebagai bukit yang menyendiri. Berbeda dengan umumnya bukit dan gunung di Madinah yang saling menyam­bung, Jabal Uhud tidak bersam­bungan.

Jabal Uhud menjadi saksi bisu dari Perang Uhud di tahun 625 H silam. Sebanyak 70 orang syu­hada gugur dan dimakamkan di sana. Dahulu Nabi Muhammad SAW kerap ziarah ke Jabal Uhud. Sehingga kemudian umat Muslim yang ke Tanah Suci untuk umroh atau haji pun kerap datang ke Ja­bal Uhud untuk berziarah.

Komplek pemakaman terlihat begitu sederhana. Di sekeliling­nya diberi pagar berjeruji yang tingginya sekitar 3 meter. Di area pemakaman terlihat batu-batu hitam membentuk kotak cu­kup besar sebagai tanda makam Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abdullah bin Jahsyi, yang merupakan sepupu Nabi Mu­hammad SAW. Sementara itu makam para syuhada lainnya ti­dak terlihat ada tandanya. Pezi­arah bisa leluasa melihat ke area dalam pemakaman. Namun tetap ada aturan berziarah yang harus ditaati.

Sebelum meneruskan perjala­nan ke Bandara Prince Abdul Aziz Madinah, kami menyem­patkan diri untuk Salat Maghrib dilanjutkan Sholat Isya jama tak­dim di Masjid Jabal Uhud.

Sekitar pukul 20.00, rom­bongan Malika Tour & Travel tiba di Bandara Madinah untuk kemudian terbang ke Jakarta. “Alhamdulillah perjalanan kita dimudahkan dan dilancarkan sama Allah,” kata Roni Setiawan teman saya di ruang tunggu bandara. “Alhamdulillah juga, selama kita di Tanah Suci kita dilayani dengan baik oleh Ma­lika. Pelayanan Malika Tour & Travel sangat mengutamakan jamaahnya, dari mulai berang­kat sampai pulang,” timpal saya. Muhammad Sidik yang berada di samping saya mengangguk-ngangguk.

Banyak kisah menakjubkan dan kemudahan selama sembi­lan hari berada di Tanah Suci. Salah satu yang paling nikmat adalah kesehatanku yang terus terjaga. Biasanya kalau di Ta­nah Air saya suka sakit gigi dan sakit perut. Tapi selama di Tanah Suci, alhamdulilah tidak kumat lagi sehingga tidak mengganggu kelancaran ibadah.

Sungguh perjalanan yang tak terlupakan, sungguh perjalanan yang sangat indah. Saat aku men­gakhiri cerita ini, aku terkenang lagi pada tempat-tempat yang kami susuri saat pergi ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Su­jud-sujud yang meneduhkan di lantai kedua masjid suci tersebut. Udara Arab yang terasa berbeda kuhirup. Aaaaahhhh, aku ingin kembali lagi. Suatu saat nanti, kelak kami pasti akan ke sana lagi. Insya Allah. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.