Solar Langka di Panimbang

Nelayan Tak Bisa Melaut

PANDEGLANG, SNOL—Ratusan ne­layan di kecamatan Panimbang dan Sindangresmi mengeluhkan kelangkaan solar selama satu pekan terakhir. Para pencari ikan itu ter­paksa tak melaut akibat ketiadaan bahan bakar.

Ketua Paguyuban Nelayan Kabu­paten Pandeglang, Encep Waas mengungkapkan, kelangkaan BBM jenis solar itu terjadi lantaran lambatnya pengiriman. Bahkan kuota solar juga tengah dikurangi.

“Kelangkaan solar itu karena keterlambatan pengiriman. Katanya dijatah per-tiga hari satu tangki 18 ribu ton. Biasanya sehari dua tang­ki, sekarang tiga hari sekali. Coba saja lihat banyak perahu nelayan yang tidak bisa melaut. Nelayan di Sidamukti Kecamatan Sindangres­mi dan sekitarnya, sudah hampir 1 bulan terakhir ini susah mem­peroleh solar bersubsidi,” kata En­cep, Selasa (17/4).

Menurut Encep, hal itu diper­parah dengan tidak berfungsinya solar packet dealer nelayan (SPDN) di Panimbang. Sehingga nelayan dari wilayah tersebut, harus mencari ke stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) Sindagresmi.

“Bayangkan saja un­tuk nelayan di Sidam­ukti saja, terdapat seki­tar 50 kapal yang biasa berangkat ngegardan (melaut,red). Belum lagi ratusan kapal kecil nelayan, yang jelas butuh akan solar. Maka dari itu dengan adanya kelangkaan solar ini, para nelayan kita lebih memilih ti­dak melaut,” jelasnya.

Tidak banyak yang bisa dilakukan nelayan selain menunggu pasokan solar kembali normal katanya. Karena meski mendapat solar, para nelayan tidak bisa melaut dalam waktu yang lama akibat terbatasnya stok solar.

“Jika memaksakan membeli solar di pengecer, harganya akan lebih tinggi. Jelas hal itu berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan. Karena waktu melaut para nelayan menjadi terhambat,” pungkasnya.

Salah seorang nelayan asal Panim­bang, Ade mengaku, sangat menge­luhkan hal tersebut. Karena kata dia, akibat kelangkaan solar tersebut, ia dan sejumlah nelayan lainnya ha­rus mencari solar ke wilayah Labuan bahkan hingga ke Serang. Tak jarang, ia pun terpaksa harus membeli solar di pengecer meski harga yang dijual lebih tinggi.

“Dalam sekali melaut kami mem­butuhkan sekitar 600-800 liter solar. Namun ketika pasokan 18 ribu ton datang pun di SPBN, habis dalam waktu 3-4 jam saja,” keluhnya.

Maka dari itulah lanjutnya, para nelayan berharap agar pasokan dan pengiriman solar bisa kembali nor­mal. Soalnya, para nelayan harus segera kembali melaut supaya kebu­tuhan hidup tetap terpenuhi.

“Untuk masalah solar tolong di­maksimalkan oleh pemerintah. Jangan ada batasan jatah lagi karena di sinikan ada ribuan nelayan,” hara­pannya. (nipal/gatot)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.