Toko Alat Tulis Cetak Uang Palsu Ratusan Miliar

Digerebek Mabes Polri di Pandeglang

PANDEGLANG, SNOL—Mabes Polri menggerebek pabrik pembuatan uang palsu berkedok toko Alat Tulis Kantor (ATK) dan tempat percetakan dengan merek dagang Dianam Jaya di Pandeglang, Selasa (17/4). Pabrik yang sudah berusia selama dua tahun itu di­duga telah mencetak uang palsu senilai ratusan miliar rupiah.

Kepala sub unit Direktor­at Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Kompol Anton menjelaskan penggerebekan terhadap pabrik di Kampung Santika, Palurahan, Kaduhejo, Kabu­paten Pandeglang itu meru­pakan hasil pengembangan terhadap penangkapan pe­nyebar uang palsu.

Menurut Anton, pabrik terse­but sudah mencetak ratusan miliar uang palsu yang disebar­kan ke seluruh Indonesia.

Tidak hanya uang pecahan rupiah, pabrik itu juga mem­produksi uang palsu pecahan asing seperti Dollar dan Pound­sterling. Pabrik tersebut berdiri di atas 3 rumah toko berlantai 2. Pemiliknya menyulap 2 ruko se­bagai tempat percetakan dan 1 ruko sebagai toko yang menjual buku serta ATK.

Polisi mengamankan barang bukti berupa 3 mesin percetakan dan ribuan lembar uang palsu. 4 orang diamankan terkait kasus tersebut. Sementara di lokasi, petugas langsung memasang garis polisi guna memudahkan penyelidikan.

“Pengungkapan kasus ini bermula dari penangkapan 2 pelaku di stasiun Gambir, pukul 10.00 WIB kemarin,”ujar Anton, Selasa (17/4).

Menurut Anton, uang palsu tersebut dipesan dukun peng­ganda uang sebagai alat dalam memikat korban. Para dukun itu akan menipu korban den­gan berpura-pura menunjukkan uang.

Menurutnya, tidak ada ba­han istimewa yang digunakan pelaku sebagai pembuatan uang palsu. Karena semua bahan bisa didapat dengan mudah di berb­agai tempat. “Bahan-bahannya bisa didapatkan di tempat biasa, tidak ada yang istimewa. Secara kasat mata juga bisa dibedakan bahwa itu palsu,” katanya.

Lebih jauh lagi dia mengung­kapkan, sejak beroperasi pelaku sudah memproduksi Upal hing­ga ratusan miliar rupiah. Sedan­gkan pemesan yang diamankan, sudah tiga kali melakukan tran­saksi dengan nominal yang ber­beda.

“Yang pertama Rp 200 juta, yang kedua Rp 100 juta dan yang ketiga itu Rp 150 juta. Jadi si pelaku telah memesan uang sampai dengan 600 juta rupiah. Pecahan uang yang ditemukan hari ini nilainya Rp 100 ribu dan berbagai mata uang asing beru­pa Dollar, Singapure dan Pound­sterling,” jelansnya lagi.

Transaksi yang digunakan oleh tersangka pembuat uang palsu ini adalah 3 uang palsu dibayar dengan 1 uang asli atau 3 banding 1. “Misalnya, untuk uang palsu Rp 60 juta, si peme­san harus membayar Rp 20 juta kepada si pencetak uang palsu,” katanya.

Dari hasil penggerebekan tersebut, polisi mengamankan dua pelaku yakni A sebagai pe­milik percetakan dan Y sebagai staf pembantu. Sehari sebel­umnya, pihaknya sudah men­gamankan dua penggedar dan pengguna uang palsu atas nama P dan H.

“Jadi total pelaku yang dia­mankan ada empat orang. Dua orang sudah lebih dulu kami akankan di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Bahkan pelaku A dan H itu residivis dengan kasus yang sama,” paparnya.

Kapolres Pandeglang, AKBP Indra Lutrianto Amstono men­gungkapkan uang palsu yang diproduksi tidak disebarkan di Pandeglang karena dicetaknya berdasarkan pesanan. “Yang kami temukan uangnya masih dalam bentuk kertas. Namun sebagian ada yang sudah jadi,” jelas Indra di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Selasa (17/4).

Tetangga pelaku, Arianto mengungkapkan tidak tahu bahwa ruko yang bersebelahan dengan tempatnya berjualan itu memproduksi uang palsu. Selama ini, tidak ada aktivi­tas yang mencurigakan meski diakui, tempat percetakan itu tidak terlalu ramai dikunjungi konsumen.

“Pemilik percetakan setahu saya orang Medan. Mereka tidak terlalu tertutup, cukup bersosial­isasi. Cuma memang bukanya ti­dak setiap hari. Biasa buka juga ti­dak tentu,” ujarnya. (nipal/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.