Orang Tua Murid Berjubel di Hari Pertama Sekolah

TANGERANG, SNOL—Suasana ling­kungan sekolah pada Hari Pertama Sekolah (HPS) dipadati dengan kendaraan orang tua murid. Banyak orang tua (Ortu) murid yang sengaja menyempatkan diri mengantarkan anaknya ke sekolah.

Alhasil, lalu lintas menjadi macet lantaran banyak kendaraan yang diparkir di pinggir jalan. Seperti yang terpantau di SD Dharma Karya (SDK) UT (Universitas Terbuka), Ke­camatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Senin (16/7).

Rata-rata Ortu murid baik ayah maupun ibu kompak mengantar buah hatinya ke sekolah. Apalagi yang siswa kelas 1, banyak yang sen­gaja menunggu. Di SDK ini diberi­kan kesempatan kepada ortu murid untuk menunggui anaknya selama tiga hari.

“Ada kebijakan sekolah khusus ke­las 1 bisa ditunggui tiga hari untuk penyesuaian dari TK ke SD,” ungkap Guru Ros yang ditemui di SDK.

Di HPS ini, anak-anak masih dalam tahap perkenalan. Jadwal be­lajar mengajar belum normal. Yang harusnya pulang pukul 13.00, di HPS ini anak-anak pulang 09.30.

Terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muh­adjir Effendy memantau Hari Per­tama Sekolah (HPS) di Papua. Dia mengaku bangga sekolah di Papua tidak kalah dengan daerah lain.

“Saya berkunjung ke SD yang san­gat bagus, tidak kalah dengan SD di tempat lain, khususnya Jawa. Saya minta Pemprov Papua bisa mengim­baskan sekolah yang bagus ini ke sekolah-sekolah lainnya di Papua yang kondisinya masih kurang,” ujar Menteri Muhadjir

Muhadjir memberikan motivasi kepada para siswa terus belajar dan memberikan kemajuan untuk Pap­ua. Ia berpesan agar sekolah me­nyambut siswa dengan suasana yang menggembirakan.

Pengenalan terhadap fasilitas dan peraturan sekolah, menurut Muhad­jir, perlu disampaikan dengan baik dan penuh keramahan. Para guru memperkenalkan diri juga den­gan penuh keterbukaan. Kemudian mendengarkan harapan dari siswa.

Disampaikan mantan Rektor Uni­versitas Muhammadiyah Malang ini, pendidik perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing.

Dengan sistem zonasi yang sudah mulai diterapkan, Muhadjir ber­harap hal tersebut bisa merekatkan, menyinergikan antara tripusat pen­didikan, yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga. Sehingga perlu dis­adari tanggung jawab pendidikan tidak hanya di satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.

“Diharapkan jika ada hal-hal negatif yang menimpa siswa kita, bisa diatasi dengan kerja sama an­tara tiga pihak itu,” ucapnya.

Setop Perpeloncoan dalam MOS

Sementara itu, Komisi Perlind­ungan Anak Indonesia (KPAI) men­dukung imbauan agar para orang tua siswa mengantar anak-anaknya di hari pertama sekolah. KPAI juga mendorong sekolah menyiapkan diri menyambut para orang tua dan anaknya masuk sekolah kembali. Ti­dak sekadar menurunkan anaknya di sekolah dari kendaraan, tetapi juga mengantar masuk ke kelas sang anak.

“Hal ini akan menjadi momen­tum yang menyenangkan bagi anak-anak. Hal ini juga akan membawa dampak positif ke depannya terha­dap keharmonisan hubungan orang tua dan pihak sekolah,” ujar Retno Listyarti, komisioner KPAI Bidang Pendidikan.

Selain itu, KPAI mengimbau pihak sekolah untuk menjamin pelaksa­naan masa orientasi peserta didik baru berlangsung dengan aman, ra­mah dan nyaman bagi siswa baru. Diharapkan tidak ada lagi perpelon­coan antara senior di sekolah den­gan murid baru.

“Untuk itu, maka perpeloncoan dan bullying harus dicegah semaksi­mal mungkin. Suasana harus dicip­takan penuh kekeluargaan, kondusif dan zero kekerasan,” tandas Retno. (jpnn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.