Petani Diimbau Beralih ke Pupuk Organik

SERANG,SNOL – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang mengimbau para petani agar mulai beralih menggunakan pupuk organik dalam bercocok tanam. Mengingat alokasi pupuk bersubsidi yang diberikan kepada Kabupaten Serang hanya sekitar 16.000 ton dari total kebutuhan 18.000 ton.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang, Dadang Hermawan mengatakan, target areal tanam lahan pertanian di Kabupaten Serang saat ini diatas 90.000 hektar. Jika satu hektar saja memerlukan 200 kilogram, maka alokasi pupuk yang dibutuhkan oleh Kabupaten Serang mencapai 18.000 ton.

“Sedangkan untuk tahun ini terhitung dari Januari alokasi pupuk bersubsidi jenis urea hanya 16.000 ton,” ujarnya, Kamis (30/8).

Namun ia mengaku belum mengetahui apakah alokasi pupuk yang ada cukup atau tidak untuk para petani, karena sampai saat ini belum ada permintaan tambahan dari masyarakat terkait pupuk bersubsidi tersebut. “Jadi kita manfaatkan dulu alokasi yang ada,” katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Distan Kabupaten Serang, Dzaldi Dhuhana mengatakan, untuk kebutuhan pupuk, sejak awal memang sudah kurang jika dibandingkan dengan jadwal tanam petani.

“Informasi dari petani dengan adanya RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) pun sudah kurang, tidak seperti standar yang diperoleh petani pada tahun sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Dzaldi, untuk Kabupaten Serang kebutuhan standar pupuk petani antara 250-270 kilogram per hektarnya. Sedangkan sekarang hanya 200 kilogram per hektar alokasinya. “Memang produksi pupuk bersubsidinya sudah kurang, walaupun seperti PT Pusri, pupuk kujang masih memproduksi, tapi untuk non subsidi. Kalau pembagiannya bukan ditingkat kita, kalau kita hanya mengawasi,” tuturnya.

Ia menuturkan, dengan berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pihaknya menyarankan petani untuk beralih ke pupuk organik. “Kalau kita berpikir jangka panjang jangan pakai urea lagi, pilihannya organik, karena bahan baku urea itu gas alam. Sedangkan gas alam kurang dari 30 tahun lagi, jadi harganya akan naik terus dan suatu saat akan kehabisan. Sedangkan kalau pupuk organik akan berkelanjutan, walaupun tidak sama dengan pupuk kimia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, banyak kelemahannya ketika petani masih bergantung pada pupuk bersubsidi. Jika pupuk kimia naik maka yang terdampak adalah petani. “Lebih baik pupuk itu (kimia) ditinggalkan saja dan beralih ke pupuk yang ada di alam sumbernya. Sehingga pertanian bisa sustainable,” tuturnya.

Selama proses peralihan dari kimia ke organik tersebut, produksi petani memang akan berkurang. Sebab petani sudah terbiasa dengan pupuk kimia. “Jadi pola budidaya kita bergantung pada Kimia, jadi ketika berkurang (pupuk subsidi) bisa jadi berkurang. Jadi ini pekerjaan jangka panjang,” pungkasnya. (sidik/jarkasih) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.