Butuh Sinergi untuk Majukan Wisata

Diskusi Pariwisata Carita Punya Cerita

PANDEGLANG, SNOL—Cemas, geram berliput kesal. Mungkin itulah yang dirasakan para pelaku usaha wisata di kawasan Carita Pandeglang. Betapa tidak, kawasan yang dulunya dibanggakan sebagai obyek wisata fenomenal di Banten ini, kini nasibnya memprihatinkan. Air lautnya mulai kumuh, pengelolaan sampah yang tak teratur dan tata ruangnya berantakan. Ditambah aturan perizinan yang tidak jelas.

Inilah sejumlah fakta yang menyeruak saat acara diskusi panel “Carita Punya Cerita” yang digagas Satelit News di Hotel Mutiara Carita, Selasa (11/12). Ada dua narasumber yang hadir di acara itu, yakni akademisi Universitas Mathlaul Anwar (UNMA) Banten, Eko Supriatno dan pelaku usaha wisata Carita, Teja Heriyana.

Sedianya, diskusi akan dihadiri Bupati Pandeglang Irna Narulita Dimyati. Sehari jelang pelaksanaan, Irna membatalkan niatnya. Alasannya ada acara mendadak di kementerian. Irna lalu menugaskan Wakil Bupati Pandeglang Tanto Warsono Arban.

Mulanya Tanto menyatakan siap. Namun beberapa jam sebelum pelaksanaan, Tanto mengkonfirmasi batal hadir karena acara di Kemenkum HAM. Lalu ditugaskanlah Sekda Pandeglang Pery Hasanudin. Sama seperti Tanto, mulanya Pery juga siap datang. Namun setengah jam sebelum acara dimulai, Pery tiba-tiba mengirim pesan kepada panitia yang isinya tidak bisa hadir.

Ketidakhadiran para pemangku kebijakan ini kontan membuat peserta diskusi geregetan. Bukan tanpa sebab, meraka meyakini, masih banyak potensi wisata Carita yang bisa digali demi mensejahterakan masyarakatnya. Syaratnya, pemerintah daerah, pelaku usaha dan masyarakat bersinergi untuk mencari solusi.

“Sejauh ini, saya belum melihat keseriusan dari Pemerintah Daerah (Pemda), baik eksekutif maupun legislatifnya. Makanya, beberapa kawasan wisata seperti Carita, terkesan diacuhkan,” kata Eko.

Menurut Eko, mengembangkan pariwisata dibutuhkan beberapa komitmen yang harus dijalankan oleh semua pihak, termasuk di dalamnya Pemda. “Sehingga, perkembangannya dapat berjalan sesuai harapan dan cita-cita bersama. Jangan sampai, birokrasi juga kaku atau tidak fleksibel menyikapinya,” jelasnya.

Beberapa hal penting itu diantaranya, fokus atau serius, didukung oleh data yang riil, regulasi, inovasi, desentralisasi, sinergi dan kolaborasi. “Jika semua itu terwujud dan mendukung, maka secara perlahan target pengembangan kawasan atau sektor pariwisata, akan mudah diraih,” tukasnya.

Kata Eko, Pemda harus menyusun program kepariwisataan yang inovatif dan mampu mewujudkan pariwisata kreatif. “Jangan anti kritik, apalagi menjauh dari masyarakat. Karena, pariwisata harus berbasis masyarakat, adat dan kebudayaan,” jelasnya.

Eko meyakini, Carita merupakan masa depan pariwisata Pandeglang, Banten bahkan Indonesia. Karena, Carita memang banyak menyimpan cerita, yang kesemuanya itu melekat dalam proses pembangunan sebuah daerah. “Pariwisata itu membangun manusia. Pariwisata juga trend, pariwisata adalah reputasi, dan juga Pemda harus punya grand design yang jelas terhadap sektor pariwisata. Contohnya di Banyuwangi. Sekarang betapa fenomenalnya pariwisata di sana,” tambahnya.

Selain itu, dijelaskan Eko, mengembangkan pariwisata terkandung faktor pendukung lainnya yaitu, akses, fasilitas dan atraktif. “Sehingga, dalam mengembangkan kawasan wisata sejenis Carita ini, tidak akan mati dan tak ada habisnya gagasan-gagasan akan terus muncul,” bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, pelaku usaha wisata Carita, Teja Heriyana menyatakan, Carita tempo dulu merupakan salah satu kawasan wisata idola. Bahkan sampai-sampai ada istilah Carita menjadi “Kampung Bule”, karena, banyaknya turis asing yang plesiran di Carita seminggu sampai dua minggu.

“Carita di tahun 80-90-an, masih sangat indah, asri, permai. Pemandangan penyu bertelur di bibir pantai, itu sudah tidak asing lagi. Tapi sekarang, hal itu sudah sirna dan sulit dicari. Entah salah siapa. Yang jelas kita semua harus terlibat membangkitkan pariwisata Carita untuk menjadi lebih baik,” ungkap Teja.

Teja berharap, Pemda hadir sebagai kekuatan yang merangkul para pelaku usaha wisatanya, termasuk masyarakat sekitar. “Agar gairah Carita sebagai lokasi wisata andalan seperti tempo dulu dapat muncul kembali,” ujarnya.

Menurut Teja, urat nadi pariwisata ada di pelaku usahanya. Ia mengaku ironis karena Carita seolah tak diurus oleh pemerintah daerah. Seakan masyarakat dan para pelaku usaha wisata tidak punya tempat bergantung dan kehilangan arah. “Mana konsep kali bersih yang dicanangkan. Mana pasar wisata, yang dulu juga pernah digagas. Hingga sekarang, tidak ada armada angkutan sampah di Carita. Bahkan, banyak bahu jalan yang dijadikan tempat usaha dan tempat tinggal,” ulasnya.

Ketua Komunitas Pariwisata Pantai Carita (KPPC), Franky Supriadi menambahkan, selain tidak punya grand design pariwisata, Pemda Pandeglang juga terkesan hanya pencitraan. “Kami rindu ada event pariwisata seperti dulu,” katanya.

Diskusi panel kepariwisataan ini, kata Franky, seharusnya menjadi momen bagi Pemda untuk sharing, tukar ide dan gagasan dengan para pelaku usaha wisata yang ada di Carita. “Tapi nyatanya tidak ada satupun perwakilan Pemda yang hadir menjadi pembicara,” keluhnya.

Selepas acara selesai, nampak Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Pandeglang, Asmani Raneyanti terlihat hadir di lokasi acara. (mardiana/dm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.