KPU Pastikan Hak Pilih di Daerah Bencana

JAKARTA, SNOL–Bencana gempa, tsu­nami dan lukuifaksi yang melanda Sulawesi Tengah (Sulteng) telah men­jadi keprihatinan bersama semua anak bangsa. Tak terkecuali Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI yang terus memberikan perhatian kepada warga untuk bangkit dan tidak melupakan haknya di Pemilu 2019.

Bersama jajaran KPU Provinsi Sulteng serta KPU Kota Palu, jajaran KPU RI pun mengunjungi masyarakat di Kelurahan Petobo, Palu, beberapa waktu lalu. Disana KPU RI memberi­kan sosialisasi dan pendidikan pe­milih guna tetap menjaga partisipasi mereka di pemilu nanti.

Hadir dalam kegiatan ini Anggota KPU Provinsi Sulteng Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat Sahran Raden, Anggota KPU Sulteng Divisi Teknis Samsul Y Gafur serta Dosen Institut Agama Islam Negeri Palu Muhtadin Daeng Mustafa.

Sahran Raden dalam penjelasannya menyemangati warga pemilih untuk tetap kuat dan bangkit menghadapi situasi yang ada saat ini. Menurut dia masa depan Palu, Sulteng dan Indo­nesia tetap ada di tangan masyarakat, dan salah satunya dilakukan melalui pemilu yang berlangsung serentak. “Pemilu 2019 nanti akan dilaksanakan serentak antara pemilu presiden dan wakil presiden serta pemilu DPR RI, DPRD provinsi, DPRD Kabupaten, dan Pemilihan DPD,” ujarnya.

Samsul Y Gafur dalam kesempatan itu memastikan masyarakat Palu yang tertimpa musibah tetap dipastikan masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Mereka juga diberikan hak yang sama seperti pemilih lainnya, seperti hak untuk mereka yang ingin pindah memilih. “Warga yang hen­dak pindah memilih harus memiliki formulir A5 agar bisa menggunakan hak pilihnya di tempat yang dituju,” tuturnya.

Senada Muhtadin Daeng Mus­tafa memberikan optimisme warga akan segera bangkit dan seman­gat dalam menghadapi bencana. Musibah menurut dia adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada umat­nya. “Musibah sebagai pelajaran agar masyarakat kuat untuk menentukan masa depan, termasuk menentukan masa depan bangsa melalui pemilu,” pungkas dia.

Sementara, anggota Bawaslu RI Mochammad Afifuddin mengingat­kan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi atau mempercayai isu atau informasi yang menyebar dijejar­ing media sosial yang belum terbukti kebenarannya. Jangan mudah per­caya. Ini tahun politik. Medsos bisa dijadikan sarana saling menjatuhkan.

“Saya ingatkan kepada masyarakat luas yang aktif disemua media sosial (Medsos) untuk tidak mudah terpen­garuh dengan hal-hal yang menyebar dijejaring medsos yang belum tentu terbukti kebenarannya, kata Afifud­din. “Masyarakat harus cerdas dalam menghadapi perkembangan teknolo­gi komunikasi. Medsos bisa menjadi racun yang mematikan jika kita tidak hati-hati dalam menggunakannya. Penyebaran isu hoaks begitu mera­jalela, apalagi jelang Pemilu 2019. Un­tuk itu, jangan mudah percaya jika be­lum terbukti kebenarannya,” ujar Afif.

Medsos, sambung Afif, saat ini merupakan sarana yang diminati ban­yak kalangan dalam menyampaikan informasi terkait kepentingan prib­adi atau golongan dengan harapan mendapatkan respons yang baik dari pengguna Medsos yang lain. Akan tetapi, tidak sedikit medsos ini dijadi­kan wadah untuk menyebarkan berita palsu, menjatuhkan seseorang atau kelompok demi memuluskan dalam merebut suatu kekuasaan.

“Dengan demikian, sekali lagi saya ingatkan kepada masyarakat secara luas untuk kiranya lebih cerdas dalam menyimpulkan suatu informasi yang beredar. Jangan mudah terprovokasi sehingga kita menjadi pelaku hoax di­dalamnya,” tegas Mantan Koordinator Nasional JPPR itu. (jpnn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.